RI Luncurkan Hidrogen Tapi Harganya Masih Mahal, Ini Imbauan Bahlil

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui biaya produksi hidrogen saat ini tetap lebih mahal, utamanya jika dibandingkan dengan sumber daya lainnya.

Oleh karena itu, dia menilai pengembangan teknologi nan lebih efisien menjadi kunci agar hidrogen dapat bersaing dengan bahan bakar konvensional.

Menurut Bahlil, berasas diskusinya dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), nilai hidrogen tetap berada di atas biaya penggunaan biodiesel B50 non-public service obligation (non-PSO).

"Non-PSO itu biaya industri itu kan kurang lebih sekitar Rp18.600. Kalau pakai bensin diesel itu bisa mencapai 1 liter itu 3,5 sampai 4 kilo. Kalau diumpamakan dengan hidrogen ini berapa energinya rupanya tetap di atas daripada nilai B50. Hidrogen tetap agak lebih mahal," ujar Bahlil dalam aktivitas Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta, dikutip Rabu (22/7/2026).

Bahlil mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah, industri, dan lembaga riset untuk menghadirkan teknologi produksi hidrogen nan lebih efisien sehingga harganya semakin kompetitif.

"Nah Bapak Ibu semua ini adalah sebuah tantangan untuk kita semua dalam rangka gimana mendapatkan teknologi nan lebih efisien agar kompetitif," katanya.

Ia pun optimistis hidrogen bakal menjadi semakin kompetitif di masa depan. Menurutnya, ketidakpastian geopolitik dunia dan semakin sulitnya menemukan persediaan minyak baru berpotensi mendorong kenaikan nilai bahan bakar fosil, sehingga hidrogen bakal mempunyai daya saing nan lebih baik.

"Jadi menurut saya ini adalah sebuah langkah nan sangat penting. Memang tidak ada sesuatu nan gampang. Sesuatu nan baru itu pasti butuh tantangan tapi jika ini sudah bisa kita menemukan teknologinya lebih efisien saya percaya ini bakal jalan," katanya.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya