RI Mau Bangun Pabrik Metanol 2,5 Juta Ton, Ini Detilnya

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana membangun pabrik metanol dengan kapabilitas total mencapai 2,5 juta ton. Proyek tersebut salah satunya untuk mendukung produksi bahan baku biodiesel nan saat ini telah mencapai kadar 50% (B50).

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan rincinya ialah pembangunan pabrik tersebut bakal difokuskan di dua wilayah utama, ialah Jawa Timur dan Kalimantan.

"Kalo Bojonegoro kan nan pakai model dari gas itu prosesnya," dikutip Senin (13/7/2026).

Pembangunan pabrik di Bojonegoro, Jawa Timur, rencananya bakal mengoptimalkan potensi sumber daya gas alam di wilayah tersebut. Pemerintah bakal menerapkan teknologi pengolahan uap guna mengonversi gas menjadi metanol.

"Nanti pakai gas alam, pakai gas alam, pakai steam reforming ya jika nggak salah ya istilah teknologinya," imbuhnya.

Sementara itu, untuk proyek nan berlokasi di Kalimantan, pemerintah bakal mendorong produksinya melalui gasifikasi batu bara. Hal itu senada dengan hilirisasi batu bara untuk menghasilkan gas sintetis sebelum dikonversi menjadi metanol.

"Kalau nan di Kalimantan kan low rank coal jadi gasifikasi pakai syngas, syngas jadi metanol. Nah itu bisa," tuturnya.

Memang, pemerintah mencatat kebutuhan metanol nasional sekarang mencapai 2,5 juta ton per tahun. Hal itu sejalan dengan mulai berlakunya program B50 sejak 1 Juli 2026 nan memerlukan metanol sebagai salah satu bahan baku biodiesel.

Untuk memenuhi kebutuhan itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah bakal segera membangun industri metanol di dalam negeri. Langkah tersebut diambil agar Indonesia bisa menyediakan pasokan secara berdikari bagi program biodiesel.

Pemerintah menargetkan pembangunan pabrik metanol tersebut dimulai melalui peletakan batu pertama (groundbreaking) pada bulan ini. Hal itu lantaran penerapan B50 juga perlu dibarengi dengan pemenuhan bahan bakunya dalam negeri.

"Maka langkah berikut adalah kita mendorong untuk segera membangun industri metanol. Ini ada di Jawa Timur sudah kita bulan ini juga kita bakal melakukan groundbreaking. Dan kemudian adalah di Kalimantan Timur merupakan bagian hilirisasi daripada batu bara," kata Bahlil.

Seiring dengan itu, memang B50 sendiri bisa menghentikan impor solar di dalam negeri.

"Ini adalah sebuah lompatan nan sangat sigap atas dasar pengarahan Bapak Presiden. Dengan peluncuran B50 ini maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor solar dari negara lain," terang Bahlil.

Pemerintah juga memproyeksikan adanya surplus produksi solar hingga 4 juta kiloliter (kl) berkah pengoperasian kilang baru di Kalimantan Timur. Kelebihan pasokan tersebut bakal dikonversi untuk mendukung produksi Avtur di dalam negeri.

"Surplusnya itu diperkirakan di antara 3-4 juta. Tahap berikutnya adalah kita bakal mendorong untuk membangun Avtur. Kita bakal mencoba untuk juga tidak lagi melakukan impor Avtur," tandasnya.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya