Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak 72,8% wilayah alias 509 Zona Musim (ZOM) di Indonesia sedang masuk Musim Kemarau. Prediksi terbaru menunjukkan intensitas El Nino nan menguat.
Di saat bersamaan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia masuk kategori rendah.
Dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian II Juli 2026 nan dirilis BMKG pada Kamis (23/7/2026), curah hujan di Indonesia bervariasi, dengan 0,45% wilayah kategori Tinggi, 6,63% kategori Menengah, dan 92,93% kategori Rendah. Sementara, sifat hujan bervariasi dengan 3,8% di Jauh di Atas Normal, 2,26% di Atas Normal, 3,96% Normal, dan 89,97% di Bawah Normal.
Dalam kondisi tersebut, BMKG memetakan wilayah di Indonesia nan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) secara beruntun hingga Ekstrem Panjang.
"Hasil pemantauan HTH hingga Dasarian II Juli 2026 menunjukkan kategori Panjang, ialah 21-30 hari, tercatat di 1.366 titik pengamatan, sedangkan kategori Sangat Panjang alias 31-60 hari tercatat di 943 titik. Sementara HTH kategori Ekstrem Panjang alias lebih dari 60 hari terdapat di 70 titik pengamatan nan tersebar di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara," tulis BMKG dalam Rilis Potensi Hujan Sepekan ke Depan.
"Durasi HTH terpanjang mencapai 80 hari dan tercatat di Pos Hujan RPH Katerban, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah," lanjut BMKG, dikutip Jumat (24/7/2026).
Menurut BMKG, wilayah Indonesia nan sedang mengalami musim tandus adalah Aceh bagian utara, Sumatra Utara bagian selatan, Riau bagian selatan, Sumatra Barat bagian selatan, sebagian Kepulauan Riau, Bengkulu, sebagian Jambi, Sumatra Selatan, sebagian Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian besar Kalimantan Barat. sebagian besar Kalimantan Timur, sebagian besar Kalimantan Tengah bagian selatan, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Barat, sebagian Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
"Hasil monitoring pada Dasarian II Juli 2026 menunjukkan indeks IOD dasarian (indeks bulanan) sebesar +0,197 (-0,387). Sementara itu, nilai SSTA di region Nino3.4 secara dasarian (ENSO bulanan) adalah sebesar +2,26 (+1,56), nan menunjukkan El Nino event intensitas kuat," papar BMKG.
BMKG mengeluarkan Peringatan Dini potensi Kekeringan Meteorologis, dengan 3 provinsi masuk Status Awas.
Berikut pengelompokkan peringatan nan dirilis BMKG:
- Waspada
Beberapa kabupaten/kota di Provinsi Bali, Banten, Di Yogyakarta, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Maluku Utara, NTB, NTT, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara
- Siaga
Bali, Banten, DI. Yogyakarta, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Maluku, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara
- Awas
Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Analisis & Prediksi ENSO (Pemutaakhiran Dasarian II Juli 2026) dirilis BMKG tanggal 23 Juli 2026. (Dok. BMKG) Foto: Analisis & Prediksi ENSO (Pemutaakhiran Dasarian II Juli 2026) dirilis BMKG tanggal 23 Juli 2026. (Dok. BMKG)
El Nino Terus Menguat, Simak Rekomendasi BMKG
BMKG memprakirakan, pada Dasarian III Juli 2026, kondisi relatif kering diprakirakan tetap mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.
Curah hujan kategori rendah diprediksi mencakup sekitar 77,48% wilayah, sedangkan kategori menengah sebesar 22,51% dan kategori tinggi nyaris tidak terdeteksi. Pola tersebut diprakirakan terjadi di sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sebagian wilayah Papua.
"Dominasi kondisi kering tersebut sejalan dengan perkembangan dinamika suasana global. Indeks Nino 3.4 dasarian tercatat sebesar +2,26, lebih tinggi dari dasarian sebelumnya, dengan nilai SOI mencapai -30,2. Kedua parameter tersebut menunjukkan sinyal El Niño nan diprakirakan terus berkembang hingga mencapai kategori kuat pada tahun ini. Kondisi ini berpotensi menekan pembentukan awan hujan dan memperkuat kecenderungan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia," ungkap BMKG.
Karena itu, memasuki musim tandus nan semakin mendominasi sejumlah wilayah Indonesia, BMKG mengimbau masyarakat mengantisipasi akibat cuaca panas dan kondisi udara nan lebih kering.
Termasuk agar menggunakan pelindung alias tabir surya guna mengurangi paparan langsung sinar mentari serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi nan beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan.
"Seiring menguatnya kondisi kering di sejumlah wilayah, masyarakat dan pemerintah wilayah juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan titik panas (hotspot) serta potensi kebakaran rimba dan lahan," kata BMKG.
"Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, baik untuk membuka alias membersihkan lahan maupun membakar sampah, terutama di area nan mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, hutan, dan lahan kering. Apabila menemukan titik api alias indikasi kebakaran, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada pihak berkuasa agar dapat ditangani sedini mungkin dan tidak meluas," demikian peringatan BMKG.
Di sisi lain, meski musim tandus semakin dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang nan dapat disertai kilat/petir dan angin kencang tetap berpotensi terjadi secara lokal.
BMKG pun meminta masyarakat dan pemangku kepentingan perlu tetap mewaspadai potensi pohon alias cabang tumbang, iklan roboh, genangan, dan sambaran petir, serta menghindari berlindung di bawah pohon, papan reklame, alias gedung rentan saat cuaca buruk.
Analisis perkembangan musim tandus 2026 dirilis BMKG tanggal 23 Juli 2026. (Dok. BMKG) Foto: Analisis perkembangan musim tandus 2026 dirilis BMKG tanggal 23 Juli 2026. (Dok. BMKG)
(dce/dce)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·