Ilustrasi(Antara)
PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Bekasi, Jawa Barat, mencatat sebanyak 2.592 hektare lahan pertanian di wilayahnya mengalami kekeringan sepanjang musim tandus tahun ini. Luas areal nan terdampak berpotensi kian meluas mengingat BMKG memprediksi puncak musim tandus tetap berjalan hingga September 2026.
"Data ini berkarakter sementara dan berpotensi bertambah seiring berlangsungnya musim kemarau. Kami tetap terus melakukan pendataan ketat di lapangan," ujar Sub Koordinator Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Dodo Hadi Triwardoyo, Selasa (28/7)
Dodo menjelaskan, kekeringan areal persawahan ini dipicu oleh krisis air di saluran irigasi utama. Akibat keterbatasan pasokan air tersebut, sebagian petani terpaksa melakukan panen lebih awal demi meminimalkan potensi kerugian materi akibat gagal panen (puso).
Areal sawah nan terdampak kekeringan terdistribusi di beberapa kawasan, terutama di wilayah utara Kabupaten Bekasi seperti Kecamatan Pebayuran, Tambelang, Cabangbungin, Sukatani, dan Sukawangi. Kawasan tersebut sejatinya merupakan area irigasi teknis nan saat ini mengalami debit air drastis.
Sementara itu di wilayah selatan, kekeringan melanda Kecamatan Serang Baru, Cibarusah, dan Bojongmangu. Wilayah ini tergolong sangat rentan lantaran didominasi persawahan tadah hujan nan berjuntai penuh pada curah hujan.
Langkah Mitigasi
Merespons situasi tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi menyiapkan serangkaian langkah mitigasi darurat. Selain menerbitkan imbauan kewaspadaan bagi golongan tani, pihak dinas juga memetakan titik rawan serta mendata kesiapan mesin pompa air dan sumber air permukaan untuk irigasi darurat.
Sebagai jaring pengaman, Pemkab Bekasi menyiapkan support klaim melalui skema Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dengan sasaran perlindungan mencapai 1.500 hektare lahan.
Di samping itu, koordinasi lintas lembaga terus digencarkan berbareng Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Jasa Tirta (PJT) II, Kementerian Pekerjaan Umum, serta dinas mengenai di tingkat provinsi. Sinergi ini ditujukan untuk mempercepat normalisasi saluran irigasi teknis nan mengalami pendangkalan dan penurunan fungsi.
"Kami berambisi langkah mitigasi komprehensif ini bisa menekan luas lahan nan terdampak sekaligus menjaga produktivitas pangan wilayah selama musim kemarau," pungkas Dodo.
(Ant/P-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·