Rumah dan Lingkungan Tak Layak Tingkatkan Risiko Penyakit Kardiovaskular, Ini Penjelasannya

3 hari yang lalu 9
Rumah dan Lingkungan Tak Layak Tingkatkan Risiko Penyakit Kardiovaskular, Ini Penjelasannya Ilustrasi(Magnific)

BUKAN hanya pola makan, olahraga, alias kebiasaan merokok, kondisi rumah dan lingkungan sekitar juga dapat menentukan akibat seseorang mengalami penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke.

Hal tersebut diungkap dalam laporan ilmiah nan diterbitkan American Heart Association (AHA) di jurnal Circulation: Cardiovascular Quality and Outcomes. Laporan tersebut merupakan tinjauan terhadap beragam penelitian nan mengkaji hubungan antara kondisi perumahan dan lingkungan dengan kesehatan jantung.

Ketua tim penyusun laporan, Mario Sims, mengatakan ketidakamanan tempat tinggal nan berjalan dalam jangka panjang dapat menjadi sumber stres kronis nan berakibat pada kesehatan secara menyeluruh.

"Ketidakamanan tempat tinggal nan berjalan dalam jangka panjang dapat memengaruhi keahlian seseorang untuk mengonsumsi makanan bergizi, mendapatkan tidur nan berkualitas, menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin, maupun menebus obat lantaran keterbatasan biaya," kata Sims.

Menurutnya, seseorang nan mengalami kesulitan memperoleh kediaman nan layak sering kali juga menghadapi halangan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dasar. Kebutuhan dasar mulai dari mengonsumsi makanan bergizi, mendapatkan tidur nan cukup, menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin, hingga membeli obat-obatan lantaran keterbatasan biaya.

Kondisi tersebut dapat membikin faktor-faktor akibat penyakit kardiovaskular, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok, tidak tertangani dengan baik. Akibatnya, akibat mengalami serangan jantung maupun stroke menjadi lebih tinggi.

Kondisi Hunian Turut Menentukan Kesehatan

Laporan tersebut menjelaskan kualitas rumah menjadi salah satu aspek krusial nan memengaruhi kesehatan jantung. Hunian nan mengalami kerusakan, mempunyai ventilasi nan buruk, susah mempertahankan suhu ruangan tetap nyaman, alias terpapar polutan seperti jamur, timbal, dan asap rokok dapat meningkatkan akibat penyakit kardiovaskular.

Sebaliknya, memperbaiki kualitas udara di dalam rumah, mengurangi kelembapan, serta menciptakan suhu ruangan nan nyaman terbukti dapat membantu menurunkan tekanan darah.

Penelitian nan dirangkum dalam laporan juga menunjukkan orang nan tinggal di perumahan tua maupun area berpenghasilan rendah mempunyai akibat lebih tinggi mengalami penyakit jantung. Selain berakibat pada kesehatan fisik, kondisi kediaman nan tidak layak juga dapat memengaruhi kesehatan mental, nan diketahui mempunyai kaitan erat dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Laporan itu juga menyoroti golongan masyarakat nan mengalami tunawisma alias ketidakamanan tempat tinggal menghadapi tantangan kesehatan nan lebih besar. Tekanan psikologis, perilaku tidak sehat sebagai sistem menghadapi stres, serta terbatasnya akses terhadap jasa kesehatan menjadi aspek nan meningkatkan akibat penyakit kardiovaskular pada golongan tersebut.

Lingkungan Sekitar Ikut Berperan

Selain kondisi rumah, kreasi lingkungan tempat tinggal juga berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat.

Lingkungan nan ramah bagi pejalan kaki mendorong masyarakat lebih aktif bergerak dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, akses nan mudah terhadap makanan sehat membantu masyarakat menerapkan pola makan nan lebih baik.

Kedua aspek tersebut berangkaian dengan indeks massa tubuh nan lebih sehat, tekanan darah nan lebih terkontrol, akibat glukosuria jenis 2 nan lebih rendah, serta penurunan akibat sindrom metabolik, ialah sekumpulan kondisi nan meningkatkan kesempatan terjadinya penyakit jantung.

Keberadaan ruang hijau juga memberikan faedah nan tidak kalah penting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa area nan mempunyai banyak pepohonan alias vegetasi condong mempunyai nomor kejadian glukosuria jenis 2, penyakit arteri koroner, serangan jantung, hingga kandas jantung nan lebih rendah dibandingkan area dengan ruang hijau nan minim.

Jurnal ini juga menyoroti bahwa ketimpangan dalam akses terhadap kediaman berbobot tetap menjadi tantangan di beragam wilayah.

Segregasi permukiman berasas ras alias etnis, serta kejadian gentrifikasi, ialah perubahan area akibat masuknya golongan masyarakat berpenghasilan lebih tinggi nan mendorong penduduk lama berpindah, dapat menyulitkan masyarakat berpenghasilan rendah memperoleh rumah nan layak dan terjangkau.

Laporan tersebut juga mengulas akibat krisis penyitaan rumah nan terjadi di Amerika Serikat pada 2007–2010. Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat nan tinggal di wilayah dengan tingkat penyitaan rumah nan tinggi mengalami peningkatan beragam aspek akibat penyakit kardiovaskular. Warga Hispanik di area tersebut diketahui mempunyai prevalensi tekanan hipertensi dan kolesterol tinggi nan lebih besar, sedangkan masyarakat kulit hitam usia paruh baya mengalami peningkatan kasus serangan jantung dan stroke. (American Heart Association/Z-2)

Selengkapnya