Rupiah Menanti Nakhoda Baru

2 jam yang lalu 5

loading...

Ciplis Gema Qoriah. Foto/Dok Pribadi

Ciplis Gema Qori’ah
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember

SAAT ini, rupiah tidak hanya sedang menghadapi mengatnya dolar Amerika Serikat. Rupiah sedang genting memasuki ujian kelembagaan (institutional) setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari Gubernur BI . Selanjutnya, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti, menjalankan tugas sebagai pejabat sementara Gubernur Bank Indonesia .

Merilis info JISDOR, rupiah bergerak hingga 18.088 rupiah per dolar AS pada 28 Juli 2026, perihal ini memperlihatkan bahwa pasar membaca pergantian kepemimpinan melangkah berbarengan dengan akibat global. Situasi ini cukup membikin kejutan mendalam (shock) pelaku pasar. Untuk menjaga resiliensi ekonomi domestik, situasi ini perlu ditanggapi dengan respons nan konkrit. Justru saatnya pemangku kepentingan bisa membuktikan bahwa kredibilitas rupiah melekat pada tatanan institusi, bukan berjuntai pada satu figur. Siapapun pengganti komando kebijakan Bank Indonesia, sebaiknya tetap melaksanakan kebijakan moneter secara independen, progresif dan transparan.

Menahan Pelonggaran BI Rate

Keputusan RDG BI 21–22 Juli 2026 mempertahankan BI Rate pada 5,75 persen merupakan pilihan nan tepat. Inflasi Juni berada pada 3,34 persen secara tahunan, tetap dalam sasaran 2,5±1 persen, tetapi tekanan terhadap kurs belum sepenuhnya mereda. Menurunkan kembang terlalu sigap dapat dibaca sebagai berkurangnya kewaspadaan BI ketika pasar sedang menilai arah kebijakan setelah pergantian gubernur. Dalam keadaan seperti ini, ruang pelonggaran kudu dibuka oleh pengkinian data, bukan oleh dorongan mempercepat pertumbuhan.

Baca Juga: Pengunduran Diri Gubernur BI, Dominasi Fiskal, dan Premi Risiko

Tekanan dari Amerika Serikat juga membatasi keluwesan BI. Federal Reserve mempertahankan Federal Funds Rate (FFR) pada kisaran 3,50–3,75 persen. Laporan Kebijakan Moneter The Fed bulan Juli 2026 menegaskan bahwa inflasi Amerika tetap melampaui sasaran 2 persen, antara lain akibat tekanan nilai energi. Sikap higher for longer tersebut menjaga imbal hasil aset dolar tetap menarik, memperkuat permintaan terhadap dolar, dan menahan aliran modal menuju pasar berkembang. Karena itu, pemangkasan BI Rate nan prematur dapat mempersempit selisih imbal hasil dan menambah tekanan pada rupiah.

Selengkapnya