Saat AI Masuk ke Buku Cerita Anak, Privasi Data Jadi Perhatian

1 jam yang lalu 3
Saat AI Masuk ke Buku Cerita Anak, Privasi Data Jadi Perhatian Ilustrasi(Dok Magnific)

ANAK-ANAK umumnya menyukai kitab cerita sebagai sarana intermezo sekaligus belajar. Seiring perkembangan teknologi, kitab cerita sekarang tidak hanya tersedia dalam corak cetak, tetapi juga dapat dibuat secara digital dengan support kepintaran buatan (AI). 

Teknologi tersebut memungkinkan pengguna membikin cerita nan dipersonalisasi, mulai dari memasukkan nama, foto, hingga karakter anak sebagai tokoh utama dalam buku. 

Namun, kemudahan tersebut juga memunculkan perhatian mengenai kualitas cerita dan penggunaan info pribadi anak. Menurut laporan WIRED tren ini berkembang di Amerika Serikat setelah sejumlah kakek dan nenek memanfaatkan jasa AI seperti Imagitime, StoryWonderBook, dan Childbook.ai untuk membikin kitab cerita bagi cucu mereka.

Meski dimaksudkan sebagai hadiah, sebagian orang tua justru mengaku tidak nyaman lantaran foto maupun identitas anak dimasukkan ke dalam platform AI tanpa persetujuan mereka. 

Keamanan info Anak

WIRED menuliskan bahwa salah satu pengguna Reddit menceritakan ibunya tetap membikin kitab cerita berbasis AI untuk cucunya, meski telah diminta untuk tidak mengunggah foto maupun info pribadi family ke jasa AI. 

Menurut pengguna tersebut, sang ibu membikin cerita berasas pengalaman cucunya dan menggunakan nama family sehingga dianggap merepresentasikan kehidupan mereka.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai privasi info anak. Bagi sebagian orang tua, penggunaan foto dan info pribadi pada jasa AI menjadi persoalan penting, terutama mengenai transparansi mengenai gimana info tersebut disimpan dan dimanfaatkan.

Peneliti dari School of Humanities, Macquarie University, Daozhi Xu, mengatakan kekhawatiran tersebut merupakan perihal nan wajar. 

Menurutnya, tetap terdapat pertanyaan mengenai transparansi penggunaan dan penyimpanan foto anak pada platform AI, sehingga orang tua perlu memahami gimana info tersebut dikelola oleh penyedia layanan.

Kualitas Cerita AI

WIRED juga mewawancarai sejumlah orang tua mengenai pengalaman mereka menerima kitab cerita berbasis AI. Dari wawancara tersebut, sejumlah orang tua menilai kitab cerita berbasis AI belum bisa menarik minat anak 

Seorang ayah berumur 41 tahun di Midwest mengatakan kepada WIRED bahwa kedua anaknya nan berumur 7 dan 3 tahun pernah menerima kitab cerita hasil AI dari kawan maupun personil keluarga. 

Menurutnya, cerita dalam kitab tersebut terlalu panjang sehingga anak-anaknya hanya membacanya sekali sebelum kembali memilih kitab favorit mereka. Ia menilai anak-anaknya justru merasa jenuh meski cerita tersebut dibuat dengan menampilkan diri mereka sebagai tokoh utama.

Pengalaman serupa juga disampaikan seorang ayah berumur 40 tahun di Los Angeles. Ia mengaku ibu mertuanya memberikan empat kitab cerita berbasis AI nan menampilkan gambar kedua anaknya. 

Namun, dia mempertanyakan penggunaan foto anak-anak dalam jasa AI dan menilai praktik tersebut menimbulkan persoalan dari sisi etika serta privasi.

Menurut Daozhi Xu, personalisasi tidak otomatis membikin anak menyukai sebuah buku. Ia menjelaskan bahwa anak lebih tertarik pada cerita nan mempunyai karakter kuat, alur nan menarik, humor, dan bumi imajinatif nan bisa membangun rasa mau tahu.

Xu juga menemukan kitab nan sepenuhnya dihasilkan AI tetap kerap mempunyai kelemahan, seperti kesalahan ejaan, alur nan tidak konsisten, serta ilustrasi nan tidak selaras dengan isi cerita. 

Penggunaan AI dalam pembuatan kitab cerita anak menawarkan langkah baru untuk membikin cerita nan dipersonalisasi. 

Namun, laporan WIRED menunjukkan bahwa kualitas cerita, perlindungan info pribadi, dan transparansi penggunaan info anak tetap menjadi perhatian di tengah berkembangnya tren tersebut. (Chatrine Simanjuntak/E-4)

Selengkapnya