Donald Trump membantah berita stok amunisi AS menipis di tengah bentrok dengan Iran. Ia menyebut laporan tersebut hoax dan menakut-nakuti pembocor informasi.(White House)
PRESIDEN Donald Trump membantah laporan nan menyebut Amerika Serikat sedang mengalami kekurangan amunisi. Melalui unggahan di media sosial, Trump menegaskan persediaan senjata AS tetap melimpah dan berjanji bakal menuntut balasan penjara jangka panjang bagi pihak nan dicurigai membocorkan info tersebut.
"AS. mempunyai amunisi dalam jumlah nan sangat besar, terutama jenis-jenis tertentu," tulis Trump. "Selain itu, jumlah besar sedang diproduksi dan dikirim ke AS. sesuai kebutuhan."
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya pertanyaan publik mengenai kondisi persenjataan militer AS, setelah pengeluaran amunisi skala besar dalam operasi tempur Operation Epic Fury dan tindakan saling serang jawaban nan menyertainya.
Laporan media seperti CBS News menyebut AS telah menghabiskan sebagian besar stok dunia rudal presisi jarak jauhnya. Sementara itu, The Washington Post melaporkan Trump sempat menegur Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengenai potensi kekurangan senjata tersebut.
Menanggapi buletin itu, Trump mengecam keras para pembocor info dan menyebut laporan media sebagai buletin bohong nan mengarah pada pengkhianatan.
"Para 'pembocor' dari pernyataan-pernyataan bermotif pengkhianatan ini sedang diburu," tegas Trump di Truth Social. "Hukuman penjara jangka panjang bakal dituntut!"
Ia juga menyatakan dukungannya kepada Hegseth. "Saya sangat senang dengan pekerjaan nan dilakukan Pete Hegseth," tambahnya.
Di sisi lain, Iran merespons rumor penipisan amunisi AS tersebut. Menteri Pertahanan Iran, Majid Ibn-e-Reza, menyatakan di platform X bahwa teknologi lokal mereka bisa menghadapi ancaman apa pun.
"Setiap hari, tanda-tanda penurunan keahlian musuh menjadi semakin jelas," tulis Majid. "Tetapi Angkatan Bersenjata kami - nan didukung oleh industri pertahanan nasional - dilengkapi secara penuh untuk merespons ancaman apa pun."
Meskipun info rinci stok rudal AS berkarakter rahasia, Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengestimasi bahwa pada akhir Juli, AS tersisa sekitar 759 hingga 827 rudal Patriot, sekitar sepertiga dari total sebelum konflik. CSIS juga memperkirakan AS telah menggunakan sekitar 60% dari rudal THAAD miliknya.
Pemerintah AS menegaskan produksi senjata terus ditingkatkan. Hegseth telah mengusulkan biaya darurat sebesar $87 miliar kepada Senat AS untuk membayarkan penghasilan prajurit serta dengan sigap mengisi ulang peralatan dan amunisi nan terpakai. (BBC/Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·