Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi

2 jam yang lalu 3
ARTICLE AD BOX

loading...

Anak Agung Banyu Perwita, Anggota South China Sea Council. Foto: Istimewa

Anak Agung Banyu Perwita
Anggota South China Sea Council

TAHUN 2026 menandai sepuluh tahun sejak dikeluarkannya putusan arbitrase Laut China Selatan nan diajukan oleh Filipina. Selama satu dasawarsa terakhir, lingkungan keamanan area tidak mengalami perbaikan nan mendasar sebagai akibat dari putusan tersebut. Sebaliknya, meningkatnya ketegangan persaingan strategis antarnegara besar, pendalaman kerja sama militer, serta semakin seringnya kejadian penegakan norma di laut telah menjadikan situasi area semakin kompleks.

Bagi negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia, menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan, menjamin keamanan jalur pelayaran internasional, serta mendorong kerja sama ekonomi regional tetap menjadi prioritas strategis utama. Dibandingkan terus memperdebatkan persoalan norma nan telah berjalan selama satu dekade, perhatian semestinya lebih diarahkan pada percepatan perundingan Code of Conduct (COC) di Laut China Selatan, penyempurnaan sistem manajemen krisis kawasan, penguatan sentralitas ASEAN, serta pencegahan politisasi dan pembentukan blok-blok geopolitik dalam rumor Laut China Selatan.

Stabilitas jangka panjang di Laut China Selatan pada akhirnya tidak bakal ditentukan oleh perdebatan mengenai sengketa masa lalu, melainkan oleh keahlian negara-negara area membangun sistem tata kelola nan lebih matang, inklusif, dan berkelanjutan. Ketika putusan arbitrase diumumkan pada tahun 2016, banyak pihak berambisi bahwa keputusan tersebut bakal memberikan landasan norma nan lebih jelas bagi penyelesaian sengketa di Laut China Selatan sehingga bisa menciptakan stabilitas kawasan.

Namun, perkembangan selama sepuluh tahun terakhir menunjukkan bahwa arbitrase belum menjadi jawaban akhir bagi penyelesaian sengketa tersebut. Pertama, gesekan di laut tidak menunjukkan penurunan nan signifikan. Perselisihan mengenai fitur maritim, area ekonomi eksklusif, aktivitas penegakan hukum, serta eksplorasi sumber daya tetap terus terjadi di antara negara-negara nan mempunyai kepentingan di kawasan. Aktivitas penjaga pantai, patroli maritim, serta pengawasan perikanan juga semakin meningkat sehingga menjadikan situasi keamanan tetap berada dalam kondisi nan sensitif.

Kedua, meningkatnya persaingan strategis antarnegara besar telah membentuk kembali lanskap keamanan area nan semakin rumit. Dalam beberapa tahun terakhir, aliansi pertahanan Amerika Serikat dan Filipina semakin diperkuat melalui peningkatan patroli bersama, latihan militer, serta kerja sama pertahanan.

Selengkapnya