Secercah Harapan di Balik Rampungnya Smelter AMMAN di Sumbawa Barat

1 jam yang lalu 4
Secercah Harapan di Balik Rampungnya Smelter AMMAN di Sumbawa Barat Fasilitas Smelter AMNT setelah terbangun di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.(Dok AMMAN)

LANGIT di Desa Maluk, Kecamatan Maluk, Nusa Tenggara Barat (NTB) tetap gelap tatkala deru mesin mini bus diesel terdengar renyah menyambut pagi sekitar pukul 5.30 Wita. Seorang laki-laki paruh baya dengan rambut mulai beruban berada di belakang setir. Dia sedang memanaskan mesin kendaraannya lantaran siap-siap mengantar tenaga kerja masuk kerja.

Tiap hari, selama lebih dari dua tahun terakhir tugasnya sama, mengantar dan menjemput puluhan tenaga kerja dari tempat mereka menginap di hotel (penginapan) di sekitar Maluk menuju ke titik letak shelter mereka diturunkan, di antaranya adalah di Benete area Tambang Batu Hijau. Bolak-balik sekitar 10 km.

"Kalau saya telat 5 menit, belasan orang bisa telat masuk shift," kata Pak Den, demikian pengemudi tersebut berkawan disapa, kepada Media Indonesia sembari menepuk pelan setir di depannya.

Pak Den saat ini bekerja sebagai sopir, dia sehari-hari mengantar, dan menjemput tenaga kerja nan bekerja pada salah satu perusahaan nan membangun sejumlah akomodasi di dalam area tambang tembaga dan emas tersebut. Ia tidak sendiri, beberapa temannya pada perusahaan nan sama juga melakukan perihal serupa, menjemput dan mengantar tenaga kerja berangkat dan pulang kerja. 

“Meskipun tugas mengantar sudah selesai, kami tetap di sana lantaran sewaktu-waktu diperlukan kudu siap,” katanya. 

Sebelumnya Pak Den adalah seorang pengemudi truk nan mengangkut hasil pertanian seperti jagung terkadang juga pasir di wilayah Kecamatan Seteluk. Pendapatannya ketika itu tidak menentu. Namun berkah info dari temannya, dia kemudian mendaftar menjadi pengemudi pada salah satu perusahaan nan sedang membangun akomodasi dalam kawasan. Lamaran diterima dan dia pun menerima penghasilan di atas UMR dan tetap ditambah duit insentif jika lembur, BPJS, serta Tunjangan Hari Raya (THR). 

“Alhamdulillah kami juga mendapat bingkisan nan lumayan,” katanya bangga.

Pak Den adalah penduduk Sumbawa Barat nan berdomisi di Kecamatan Seteluk. Ia mempunyai seorang istri dan satu orang anak. Berkat kerja keras nan digelutinya Pak Den dapat meneruskan pendidikan anaknya hingga berkuliah di Universitas Mataram (Unram). 

Namun di kembali senyumnya nan semringah, Pak Den nampaknya menyimpan rasa cemas. Cemas memikirkan gimana nasibnya tatkala perusahaan tempatnya bekerja telah merampungkan pekerjaan, lenyap perjanjian namalain kudu hengkang dari area tambang. Kendati perkiraan perihal tersebut tetap sekitar satu tahun lagi, setidaknya gambaran jelek itu terkadang menghantuinya.

Memang sebut Pak Den, jauh sebelumnya dia sudah mendengar tentang adanya pembangunan smelter dalam area nan diyakininya bakal menyerap banyak tenaga kerja baru. “Saya sempat berpikir jika smelter kelak mulai operasional pasti bakal memerlukan sopir, dan saya bakal melamar,” ujarnya.

Namun, Pak Den menepis sendiri harapannya untuk kembali dapat bekerja setelah kelak betul-betul kudu berakhir dari perusahaan tempatnya bekerja.

“Harapan saya seperti itu, tapi saya sadar dari sisi usia tentu bakal kalah dengan anak-anak muda nan jauh lebih energik,” tukas Pak Den nan sekarang usia menginjak 57 tahun. 

Pak Den adalah contoh mini dari ribuan penduduk lainnya nan berambisi dapat bekerja di dalam area tambang tembaga dan emas tersebut. Dia berambisi untuk dapat terus beraktivitas demi menghidupi keluarga. 

“Meskipun sebagai sopir, saya memang berambisi dapat terus bekerja di dalam kawasan,” ujar Pak Den nan mengaku juga pernah kerja sebagai pengemudi di Timur Tengah.

Angin Segar

Sebagaimana diketahui, smelter PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), secara resmi dinyatakan rampung dibangun. Artinya, konsentrat tidak lagi dikirim ke luar negeri, melainkan diproses secara langsung di dalam negeri.

Kabar ini dihembuskan oleh AMMAN bahwa, penyelesaian proyek dikukuhkan melalui penandatanganan Completion and Project Acceptance Certificat (PAC) antara AMMAN dengan mitra strategisnya, China Nonferrous Metal Industry’s Foreign Engineering and Construction Co.,Ltd. (NFC), di instansi pusat NFC di Beijing, Tiongkok pada 18 Juli 2026 lalu.

Tentu saja buletin ini membawa angin segar bagi perekonomian NTB. Dengan nilai tambah nan lebih tinggi dari pengolahan konsentrat menjadi katoda tembaga, emas, dan perak, NTB bisa meningkatkan pendapatan wilayah dan membuka lapangan kerja baru.

Di kembali hiruk-pikuk pembangunan smelter, tersimpan secercah angan baru bagi NTB. Harapan bakal masa depan nan lebih cerah, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat.

Bagi anak muda NTB, smelter membawa harapan, sekaligus kesempatan emas. Mereka bisa saja mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan nan lebih baik, mengembangkan keahlian dan berkontribusi pada pembangunan daerah.

Tidak hanya itu, pembangunan smelter ini juga mendorong perbaikan prasarana di NTB seperti jalan, pelabuhan, dan daya nan pada gilirannya bakal menarik investasi lainnya. Salah satunya, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat berbareng AMMAN telah membangun airport di Desa Kiantar, Kecamatan Poto Tano, Sumbawa Barat. Bandara khusus, namun bisa digunakan untuk kepentingan umum.

Dua Kawasan Prestisius di NTB

Rampungnya Smelter merupakan langkah besar menuju NTB nan lebih maju dan sejahtera. NTB bisa menjadi pusat industri dan daya di Indonesia Timur, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.      

Pengamat ekonomi Universitas Mataram (Unram) Firmansyah mengatakan, jika smelter sudah berjalan, maka NTB dapat dikatakan mempunya dua area industri prestisius. Di Lombok ada area industri pariwisata yakni, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, sedangkan di Pulau Sumbawa punya area industri tambang ialah smelter.

“Kesuksesan area tentu saja dari tata kelola kawasan. Pastikan supply chain manejemen beres, dan berkelanjutan, produk dan tenaga kerja lokal dapat terserap,” katanya kepada Media Indonesia.

Menurut Firmansyah, terhadap penataan area di dalam (Internal) merupakan kewenangan pengelola kawasan, tetapi menyiapkan sektor penyangga itu adalah tugas pemerintah daerah.

“Kita berambisi dengan mulai beroperasinya kawasan, itu bisa memperluas skala ekonomi Nusa Tenggara Barat,” tandasnya.

Tambang Batu Hijau nan berlokasi di Kabupaten Sumbawa Barat merupakan tambang tembaga-emas terbesar kedua di Indonesia. Fasilitas pengolahan menghasilkan konsentrat tembaga berkadar tinggi nan juga mengandung emas dan perak, nan sangat diminati oleh smelter di area Asia-Pasifik, khususnya untuk material prasarana daya terbarukan.

Pada Mei 2025, tambang Batu Hijau memulai operasi penambangan Fase 8 nan diperkirakan bakal memperpanjang umur tambang hingga tahun 2030, dengan potensi pemanfaatan stockpile hingga tahun 2033.

Selain itu, AMNT juga tengah mengembangkan Proyek Elang, nan berlokasi sekitar 60 kilometer di sebelah timur Batu Hijau. Deposit ini mempunyai tambahan persediaan tembaga, emas, dan perak nan signifikan, serta studi kepantasan definitif telah diselesaikan pada tahun 2025. 

“Kami berencana untuk memulai produksi dari tambang terbuka Elang setelah persediaan nan ada di pit Batu Hijau habis, dengan memanfaatkan akomodasi pengolahan bijih di Batu Hijau,” kata Presiden Direktur PT AMMAN Arief Widyawan Sidarto.

AMNT mengoperasikan tambang tembaga dan emas terbuka Batu Hijau di Kabupaten Sumbawa Barat, dan proyek pengembangan Elang nan berlokasi di Kabupaten Sumbawa, NTB. Secara kolektif, kedua proyek ini merepresentasikan salah satu persediaan setara tembaga terbesar di dunia.

Secara paralel, tambang Elang telah menyelesaikan studi kepantasan definitif pada tahun 2025. Menindaklanjuti hasil studi kepantasan tersebut, tambang Elang saat ini sedang menjalani revisi dan studi optimalisasi.

Pembangunan tambang Elang dijadwalkan dimulai pada tahun 2026, dengan awal produksi bijih direncanakan pada tahun 2031, untuk memastikan kontinuitas produksi tembaga dan emas. Kegiatan operasional di tambang Elang bakal memanfaatkan prasarana Batu Hijau nan sudah ada.

Sebetulnya, AMMAN telah menyelesaikan pembangunan dan memulai proses commissioning akomodasi smelter tembaga dan Precious Metal Refinery (PMR) pada tahun 2024, nan menandai tonggak krusial dalam transformasi AMMAN menjadi perusahaan pertambangan dan pengolahan nan terintegrasi secara penuh. 

Data nan dirilis AMMAN menyebutkan, pada tahun 2025, Perusahaan sukses memproduksi katoda tembaga pertamanya pada bulan Maret 2025 dan emas murni pertamanya pada bulan Juli 2025. 

Smelter tembaga dan pemurnian logam mulia tahap peleburan (smelting) adalah tahap di mana konsentrat tembaga mentah diubah menjadi logam berbobot tinggi dan produk sampingan strategis. Di AMMAN, transformasi ini didukung oleh teknologi canggih dan presisi operasional.

Smelter tembaga mutakhir itu dirancang untuk memproses hingga 900.000 ton konsentrat tembaga per tahun, menghasilkan hingga 220.000 ton katoda tembaga, dan 830.000 ton masam sulfat setiap tahun. Dengan memanfaatkan gas alam sebagai sumber daya termal utama, akomodasi ini secara signifikan menurunkan intensitas karbon dibandingkan operasi peleburan konvensional. 

Tambang Batu Hijau dan Proyek Pengembangan Elang PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) dan afiliasinya (selanjutnya disebut Grup) memegang konsesi seluas 25.000 hektare nan mencakup tambang Batu Hijau dan proyek Elang, nan bersama-sama mempunyai salah satu persediaan tembaga-ekuivalen terbesar di dunia. 

Hingga tahun 2025, Grup telah mengeksplorasi total area seluas 2.046 hektare di Batu Hijau dan 5.972 hektare di Elang. Per tahun 2025, persediaan bijih terbukti dan kemungkinan mencapai 696 juta ton di Batu Hijau dan 2.526 juta ton di Elang. 

Saat ini, produksi bijih hanya berasal dari tambang terbuka Batu Hijau, dan diperkirakan bakal bersambung hingga tambang mendekati tahap akhir ketersediaan, setelah itu operasi di tambang Elang bakal dimulai. Batu Hijau memulai produksi komersial pada tahun 2000 dan menghasilkan konsentrat tembaga berkadar tinggi nan mengandung emas dan perak, menjadikannya bahan baku nan sangat diminati oleh smelter di seluruh dunia. 

Sejak dimulainya operasi, Batu Hijau telah memproduksi total kumulatif sebesar 10.364 juta pon tembaga dan 10,9 juta ons emas hingga 31 Desember 2025. Arief Widyawan Sidarto, mengatakan, seiring dengan meningkatnya kompleksitas operasi, kapabilitas sumber daya manusia menjadi semakin penting. 

Serap Belasan Ribu Tenaga Kerja

Tahun ini sebutnya, AMMAN memperkuat fokusnya dalam membekali tenaga kerja dengan kompetensi teknis, operasional, dan kepemimpinan nan diperlukan untuk mendukung akomodasi hilir. 

Lebih dari 12.000 tenaga kerja mengikuti program pelatihan, sementara 223 orang dari tenaga kerja meraih sertifikasi ahli melalui akomodasi training terakreditasi AMMAN. Pihaknya juga meningkatkan sistem pemantauan keselamatan kontraktor tahun ini, memastikan bahwa mereka nan bekerja bersama, termasuk ribuan kontraktor nan menjadi bagian integral dari operasi sehari-hari mendapatkan tingkat perhatian, perlindungan, dan support nan sama. 

“Dengan demikian, kami menegaskan prinsip bahwa, perlindungan terhadap manusia tidak dibatasi oleh status pekerjaan, melainkan merupakan tanggung jawab berbareng bagi semua nan berkontribusi pada kemajuan AMMAN,” ucapnya.

Pertumbuhan Ekonomi Melesat

Rupanya keberadaan tambang tembaga dan emas Batu Hijau memberikan pengaruh sangat strategis terhadap pertumbuhan ekonomi di wilayah ini. Pada pertengahan tahun lampau misalnya, Mendagri Tito Karnavian menyoroti capaian pertumbuhan ekonomi NTB terburuk kedua secara nasional yakni, -1,47%. Angka ini hanya sedikit di atas Papua Tengah nan mencatat penurunan drastis hingga -25,53%.

Saat itu, Mendagri pun berupaya membantu Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menghubungi Kementerian ESDM untuk melonggarkan izin eskspor konsentrat PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) untuk mengatasi anjoknya pertumbuhan ekonomi NTB khususnya di kuartal pertama 2025 nan mencapai -1,4%.

Harapan pun tercapai, pada 31 Oktober 2025 lampau AMMAN memperoleh izin ekspor konsentrat dengan kuota 480 ribu metrik ton kering nan bertindak selama enam bulan.   

Tidak terpungkiri, aktivitas smelter menjadi salah satu motor penggerak ekonomi NTB, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi NTB tumbuh signifikan sebesar 12,49% (year-on-year).

Kepala BPS NTB Wahyudin menyebutkan, pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan nan melonjak hingga 137,78 persen seiring meningkatnya aktivitas smelter di Sumbawa Barat. Seperti disampaikan Firmansyah sebelumnya, dengan smelter pertumbuhan ekonomi NTB bakal stabil ke depan, ekspor bukan saja dari hasil tambangnya, namun produk ikutan nan dihasilkan Smelter juga tinggi. Apa nan disampaikan akademisi tersebut setidak membangun rasa optimisme di kalangan masyarakat Nusa Tenggara Barat, khusunya Pulau Sumbawa untuk menggapai masa depan nan lebih baik. Semoga! (YR/E-4)

Selengkapnya