Selama Dua Bulan Terjadi 37 Kasus Karhutla Hanguskan 42 Ha Lahan di Jawa Tengah

5 hari yang lalu 7
Selama Dua Bulan Terjadi 37 Kasus Karhutla Hanguskan 42 Ha Lahan di Jawa Tengah Kebakaran di bawah pos 9 jalur pendakian Gunung Slamet masuk wilayah Purbalingga pada Senin (13/7) lalu.(Dok Istimewa)

KEMARAU tidak hanya mengakibatkan belasan wilayah di Jawa Tengah dilanda kekeringan, dalam dua bulan terakhir terjadi 37 kebakaran rimba dan lahan (karhutla) mengakibatkan 42 hektare lahan terbakar di 16 kabupaten dan kota. 

Pemantauan Media Indonesia Kamis (16/7) tandus berjalan di Jawa Tengah dan diperkirakan mengalami puncak Agustus-September mendatang, telah mengakibatkan 14 wilayah mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih serta  sebanyak 57 ribu jiwa terdampak. 

Kekeringan dan kekurangan air bersih di sejumlah wilayah nan kian meluas tersebut, mendorong pemerintah wilayah menetapkan bunyi musibah kekeringan dan berbareng Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menggelontorkan support air bersih ke ratusan desa terdampak. 

Tidak hanya itu, tandus ini juga mengakibatkan 37 kasus musibah kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di 16 wilayah di Jawa Tengah di antaranya Sukoharjo 6 kasus, Sragen 5 kasus, Klaten 3 kasus, Blora 2 kasus, Kudus 2 kasus dan Semarang 2 kasus, hingga menghanguskan 42 hektare lahan selama bulan Juni hingga Juli 2026.

"Kita bakal terus tingkatkan persediaan air bersih untuk support nan saat ini sudah tersedia 129 juta liter, namun tidak hanya kesulitan air bersih pada musim kemarau ini, menjadi perhatian serius adalah ancaman karhutla, " kata  Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan. 

Selana dya bulan terakhir, lanjut Bergas Catursasi Penanggungan, telah terjadi 37 kejadian karhutla di 16 wilayah di Jawa Tengah nan menelan 42 hektare lahan, namun mengingat puncak tandus diperkirakan terjadi Agustus dan September, maka antisipasi musibah karhutla ini juga terus dilakukan. 

Mitigasi musibah karhutla di tengah tandus berlangsung, ungkap Bergas Catursasi Penanggungan, telah dilakukan dari mulai pemetaan titik didaerah rawan karhutla, sosialisasi pencegahan hingga kesiapsiagaan petugas di sejumlah wilayah tersebut, sehingga diharapkan bakal mengurangi kasus karhutla. 

Pemicu karhutla nan umumnya terjadi, menurut Bergas Catursasi Penanggungan, cukup beragam seperti gesekan daun dan batang kering menimbulkan percikan api, buang puntung rokok sembarangan hingga aspek kesengajaan petani lakukan pembakaran daun dan tonggak tebu usai panen dan lainnya. 

Sementara itu, Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah mencatatkan selama bulan Juli 2026 telah terjadi 16 kasus karhutla di beragam wilayah di Jawa Tengah, maka untuk mengantisipasi perihal ini terjadi lagi dilakukan mitigasi musibah karhutla dengan patroli rutin ortugas kepolisian di beragam daerah. 

"Polda juga menyiagakan personel beserta peralatan pendukung pemadaman seperti kendaraan Water Cannon untuk pemadaman darurat serta mengoptimalkan pemantauan titik panas (hotspot) berbasis teknologi untuk mempercepat respons di lapangan, " ujar Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah Kombes Artanto. 

Tidak hanya itu, demikian Artanto, menyangkut karhutla ini dilakukan langkah sosialisasi kepada penduduk terutama di sekitar rimba untuk waspada, juga turut dibarengi penegakan norma terhadap setiap peristiwa kebakaran dengan melakukan pengusutan. "Jika terbukti disebabkan unsur kesengajaan maupun kelalaian, maka dilakukan penindakan hukum, " imbuhnya. (H-2)

Selengkapnya