Serangan Fajar Guncang Ibu Kota, Sasar Bandara hingga Istana Presiden

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Rentetan tembakan dan ledakan mengguncang sejumlah wilayah di ibu kota Niger, Niamey, pada Sabtu (29/8/2026) awal hari. Penyebab serangan belum diketahui secara pasti.

Dua saksi Reuters mendengar bunyi tembakan dan ledakan di beberapa area kota sejak awal hari. Salah satu saksi juga melaporkan bunyi tembakan kembali terdengar di sekitar airport internasional Niamey.

Seorang sumber keamanan mengatakan kepada Reuters bahwa golongan nan disebutnya sebagai "teroris" telah menyerang Bandara Internasional Diori Hamani di Niamey. Para penyerang juga disebut berupaya menembus perimeter keamanan di sekitar kompleks kepresidenan.

Bana Wagana Ibrahim, personil Biro Dewan Konsultatif Niger sekaligus personil parlemen Aliansi Negara-Negara Sahel (Alliance of Sahel States/AES), mengatakan melalui FB bahwa para penyerang juga menargetkan Base 101, salah satu instalasi militer utama di Niamey.

Namun, Ibrahim menyebut pasukan keamanan sukses mengambil kembali kendali atas pangkalan tersebut.

"Serangan pengecut lainnya terhadap Base 101 dan sekali lagi pasukan pertahanan dan keamanan kita memastikan Situasi terkendali," tulis Ibrahim.

Sumber keamanan kedua mengatakan pasukan keamanan telah melancarkan operasi pencarian terhadap para penyerang. Menurutnya, para penyerang telah "dilumpuhkan", sementara sebagian lainnya melarikan diri.

Saksi Reuters lainnya mengatakan bunyi tembakan di sekitar istana kepresidenan terdengar sangat keras dan berjalan terus-menerus.

Hingga laporan ini dibuat, pemerintah militer Niger belum memberikan komentar mengenai kejadian tersebut.

Niger merupakan negara di Afrika Barat nan kaya sumber daya mineral, termasuk uranium, minyak dan emas. Negara tersebut berada di bawah pemerintahan militer sejak kudeta pada Juli 2023 nan menggulingkan Presiden Mohamed Bazoum.

Sejak mengambil alih kekuasaan, junta nan dipimpin Jenderal Abdourahamane Tiani mengurangi hubungan dengan negara-negara Barat dan mempererat hubungan dengan Rusia. Niger juga berasosiasi dengan Mali dan Burkina Faso dalam Aliansi Negara-Negara Sahel (AES), nan memisahkan diri dari blok regional Komunitas Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat (ECOWAS).

Ketiga negara tersebut hingga sekarang tetap menghadapi pemberontakan golongan Islamis nan mempunyai keterkaitan dengan al Qaeda dan Islamic State, meski para pemimpin militer mereka sebelumnya berjanji bakal meningkatkan keamanan.

Insiden terbaru di Niamey terjadi ketika junta Niger juga memperketat kendali atas sektor uranium. Pemerintah Niger sebelumnya menyita aset perusahaan asal Prancis, Orano.

Pekan lalu, pemerintah Niger melalui sebuah dekret mengalihkan izin pertambangan uranium nan sebelumnya dimiliki Orano dan GoviEx kepada perusahaan-perusahaan nan didukung negara.

Sebelum asetnya disita oleh junta sekitar 2024, Niger merupakan salah satu pemasok krusial bahan bakar nuklir bagi Eropa. Pada kapabilitas penuh, negara tersebut menyumbang sekitar 15% pasukan uranium Orano.

Serangan bersenjata juga bukan perihal baru bagi Niger. Pada Maret tahun ini, serangkaian serangan menewaskan sedikitnya 44 penduduk sipil di wilayah barat daya negara tersebut.

Sementara itu, pada Januari, terjadi serangan di dekat airport internasional Niamey.

Situasi keamanan di Niger menjadi perhatian setelah pemerintah militer berupaya mengubah arah kebijakan luar negeri, menjauh dari mitra-mitra Barat dan memperkuat kerja sama dengan Rusia, sementara ancaman golongan bersenjata tetap terus berjalan di area Sahel.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya