Siaga Kiamat Minyak di Asia, 'Penutupan' Laut Merah Sudah Makan Korban

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia -  Blokade Laut Merah, imbas ketegangan Arab Saudi dan Houthi Yaman, sudah menyantap korban. Perusahaan-perusahaan kilang minyak Asia sekarang mulai mencari rute pengganti untuk mengangkut minyak mentah dari pelabuhan Laut Merah milik Arab Saudi melalui Terusan Suez, apalagi sampai mengelilingi Benua Afrika.

Langkah ekstrem ini diambil sebagai corak antisipasi setelah golongan Houthi di Yaman nan berkawan dengan Iran mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Pengalihan rute ini menjadi dinamika terbaru lampau lintas perdagangan minyak global, di tengah perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran nan tetap terus terjadi di Teluk.

"Kondisi tersebut mendorong kilang-kilang mencari sumber pasokan pengganti maupun menggunakan jalur pengiriman nan berbeda," tulis Reuters, dikutip Rabu (22/7/2026).

"Dua kapal tanker nan mengangkut minyak mentah Arab Saudi menuju Asia dilaporkan berbalik arah di Laut Merah pada Selasa setelah muncul ancaman dari Houthi. Pada saat nan sama, jumlah kapal nan melintasi Selat Hormuz juga kembali menurun pada awal pekan ini," tambah laman itu.

Sebenarnya, para analis dan pengamat industri telah memperingatkan bahwa pengiriman ke arah barat menuju Mesir dari pelabuhan Yanbu milik Arab Saudi di Laut Merah sekarang kudu menembus Terusan Suez lampau memutar Tanjung Harapan di Afrika. Hal tersebut bakal menyantap waktu tambahan hingga empat minggu.

Jalur memutar ini dipastikan bakal melipatgandakan biaya pengangkutan (freight) serta konsumsi bahan bakar kapal. Dalam rute normal kapal-kapal dari Yanbu biasanya langsung mengarah ke timur menuju Laut Arab.

Salah satunya kapal berbendera Liberia, Rodos, nan memuat minyak mentah di Yanbu untuk dikirim ke pantai barat India. Dari data LSEG dan Kpler Selasa, kapal  itu terpantau berbalik mengarah ke barat dan memberi sinyal menuju Terusan Suez.

Sementara itu, dilaporkan pula gimana perusahaan kilang asal Korea Selatan (Korsel), Hyundai Oilbank, sekarang tengah mencari kapal tanker minyak raksasa (very large crude carrier/VLCC) untuk memuat minyak di Yanbu. Pihak Hyundai membuka opsi penggunaan Terusan Suez serta jalur pipa SUMED (Suez-Mediterranean Pipeline) nan menghubungkan Laut Merah dengan Laut Mediterania di Mesir, untuk membawa minyak tersebut menuju Negeri Ginseng.

Sebenarnya VLCC nan terisi penuh tidak dapat melewati Terusan Suez. Karena keterbatasan kedalaman kanal. Oleh lantaran itu, operator kapal biasanya memindahkan sebagian muatan minyak ke pipa SUMED di sisi Laut Merah Mesir sebelum memasuki kanal. Setelah kapal melewati Terusan Suez dengan muatan nan lebih ringan, minyak tersebut kembali dimuat di sisi Laut Mediterania.

Menurut sumber pelayaran, penyewa kapal dapat memilih menggunakan kombinasi pipa SUMED dan Terusan Suez sesuai kebutuhan, terutama jika Selat Bab el-Mandeb yang menjadi pintu masuk selatan Laut Merah, betul-betul diblokade. Perhitungan biaya tambahan akibat perubahan rute bakal dilakukan kemudian. Terusan Suez dan pipa SUMED selama ini merupakan jalur utama pengiriman minyak dari Laut Merah menuju Eropa.

"Perubahan perilaku oleh kapal tanker memberi tahu kita bahwa mereka menganggap ancaman tersebut secara serius," kata Direktur Riset Komoditas Kpler, Matt Smith.

"Gangguan dari Houthi ini datang di waktu nan sangat krusial bagi Arab Saudi. Pasalnya, volume minyak mentah dan produk olahan Saudi nan melintasi Selat Bab el-Mandeb baru saja mencatatkan rekor tertinggi pada bulan lampau dengan menembus lebih dari 4 juta barel per hari," tambahnya.

(tps/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya