Hujan meteor Perseid berjalan dari tanggal 17 Juli hingga 24 Agustus.(NASA/Preston Dyches)
KABAR ceria bagi para pencinta kejadian langit. Hujan meteor Perseid nan menjadi salah satu pagelaran "bintang jatuh" paling dinantikan setiap tahunnya, resmi memulai masa aktifnya pada minggu ini. Fenomena astronomi nan memukau ini bakal berjalan cukup lama, mulai dari 17 Juli hingga 24 Agustus 2026.
Meski kerumunan meteor paling padat baru bakal terjadi saat mencapai puncaknya pada malam tanggal 12 hingga 13 Agustus mendatang, menyaksikan Perseid sejak pertengahan Juli memberikan sensasi tersendiri. Pada fase awal ini, jumlah meteor nan melintas memang tetap terhitung jari setiap jamnya. Namun, kondisi tersebut justru membikin penampakan meteor awal terasa sangat spesial lantaran sering kali muncul secara mengejutkan di tengah kegelapan malam.
Selain itu, fase awal hujan meteor Perseid dikenal kerap menghadirkan kejutan berupa fireball (bola api). Ini adalah kejadian meteor berukuran besar dan bermassa padat nan terbakar dengan sangat terang di atmosfer Bumi. Fireball sering kali meninggalkan jejak sinar nan bercahaya dan memperkuat selama beberapa detik sebelum akhirnya memudar di langit malam.
Hujan meteor ini terjadi lantaran Bumi tengah bergerak melintasi jalur puing-puing debu dan batuan nan ditinggalkan oleh Komet Swift-Tuttle. Puing-puing kosmik tersebut kemudian masuk dan menabrak atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, lampau terbakar hingga menghasilkan kilatan sinar nan kita kenal sebagai bintang jatuh. Dari perspektif pengamat di Bumi, serpihan meteor ini seolah-olah memancar dari arah rasi bintang Perseus di langit utara. Oleh lantaran itu, kejadian tahunan ini dinamakan Perseid.
Bagi Anda nan tertarik untuk mulai berburu meteor Perseid minggu ini, waktu pengamatan terbaik adalah selepas tengah malam hingga jam-jam awal sebelum fajar. Pada waktu tersebut, konstelasi Perseus sebagai titik radian meteor telah mendaki lebih tinggi di langit timur laut, tepatnya berada di antara bintang terang Capella dan planet Saturnus di sebelah timur.
Kabar baiknya, Anda sama sekali tidak memerlukan perangkat bantu seperti teleskop alias teropong untuk bisa menikmati kejadian ini. Hal paling krusial nan Anda perlukan hanyalah letak pengamatan nan gelap, lapang, dan bersih dari polusi sinar perkotaan. Sebelum mulai berburu, pastikan untuk mengistirahatkan mata Anda dari layar gawai alias lampu terang selama minimal 15 hingga 20 menit agar mata dapat menyesuaikan diri dengan kegelapan malam. Setelah mata terbiasa, Anda cukup berebahan santuy dan membiarkan pandangan menyapu area langit malam nan luas. (Space/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·