ARTICLE AD BOX
Pengamat sepak bola ND Santoso.(Dok. Istimewa)
SIAPA sebenarnya nan menyelamatkan seorang legenda? Selama nyaris dua dekade, bumi merasa telah mengetahui jawabannya. Lionel Andres Messi.
Ketika Argentina buntu, dia menjadi jalan keluar. Ketika Argentina kehilangan harapan, dia menjadi argumen untuk kembali percaya.
Seolah-olah, setiap kali negeri itu berada di persimpangan, selalu ada satu nama nan kudu memikul beban seluruh bangsa. Begitulah kisah nan berulang kali diceritakan kepada kita.
Namun momen saat melawan Mesir, saya justru memandang sesuatu nan berbeda. Untuk pertama kalinya, pertanyaannya bukan lagi apa nan bisa dilakukan Messi untuk Argentina. Melainkan apa nan bersedia dilakukan Argentina untuk Messi.
Ketika Mesir unggul dua gol, waktu terasa melangkah lebih sigap daripada biasanya. Kamera acapkali menyorot wajah Messi. Seolah-olah seluruh jawaban kembali diletakkan di pundak seorang laki-laki nan telah memberikan nyaris separuh hidupnya kepada seragam biru langit. Apalagi, kaki kiri Messi sempat kandas melesakkan kulit bundar dari titik putih nan berjarak 11 meter.
Barangkali begitulah langkah kita memperlakukan seorang legenda. Kita terbiasa meminta mereka menyelamatkan kita. Hingga lupa bertanya, siapa nan bakal menyelamatkan sang legenda ketika mimpinya sendiri terancam runtuh?
Lalu pertandingan berubah. Bukan lantaran satu keajaiban. Bukan lantaran satu keputusan. Bukan pula lantaran satu orang. Argentina mulai berlari lebih jauh. Menekan lebih tinggi. Bertahan lebih keras. Mereka menolak percaya bahwa perjalanan itu kudu berhujung malam itu.
Dan di situlah saya menyadari, Argentina tidak menunggu Messi menyelamatkan mereka. Namun sebaliknya, Argentina memilih menyelamatkan Messi. Kalimat itu mungkin terdengar berlebihan. Namun sepak bola terkadang memperlihatkan kebenaran dengan langkah nan sederhana.
Selama bertahun-tahun kita mengatakan bahwa Messi membawa Argentina menuju kejayaan. Namun ada saatnya pula ketika sebuah bangsa memutuskan bahwa sekarang giliran mereka mengantar sang legenda. Bukan dengan pidato. Bukan dengan upacara.
Melainkan dengan berlari sedikit lebih jauh ketika tenaga mulai habis. Dengan memperkuat sedikit lebih keras ketika angan mulai memudar. Dengan memastikan bahwa jika suatu hari Messi betul-betul memainkan pertandingan terakhirnya berbareng Argentina, dia tidak bakal melangkah sendirian.
Di lain sisi, selama nyaris dua puluh tahun, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo berdiri di puncak nan sama. Perdebatan tentang siapa nan lebih dahsyat mungkin tidak bakal pernah selesai. Namun sejarah rupanya tidak hanya memilih pemain terbaik. Sejarah juga memilih bangsa nan paling bisa memahami pemain terbaiknya.
Di sinilah Argentina tampak berbeda. Mereka tidak lagi membangun permainan nan menunggu Messi menciptakan keajaiban. Mereka membangun sebuah tim nan membikin keajaiban tidak selalu kudu datang dari Messi. Perbedaannya tampak kecil. Padahal sangat besar. Menunggu adalah ketergantungan. Mempercayai adalah berbagi beban.
Dalam beberapa tahun terakhir, Argentina semakin terlihat sebagai tim nan rela berbagi beban dengan pemain terbaiknya. Ketika Messi dijaga, pemain lain membuka ruang. Ketika dia kehilangan bola, rekan-rekannya segera menutupnya. Ketika pertandingan menjadi rumit, mereka tidak lagi menoleh kepada satu orang. Mereka bergerak bersama.
Perbandingan dengan Cristiano Ronaldo nyaris selalu muncul. Bukan untuk menentukan siapa nan lebih besar. Melainkan untuk menunjukkan bahwa setiap bangsa mempunyai perjalanan nan berbeda dalam merawat pemain terbesarnya.
Portugal mempunyai generasi nan dahsyat dan telah meraih beragam gelar. Namun dalam beberapa fase, mereka tetap terus mencari keseimbangan terbaik antara memaksimalkan kualitas Ronaldo dan membangun permainan kolektif nan sepenuhnya menyatu. Argentina tampaknya lebih dulu menemukan keseimbangan itu.
Mungkin lantaran mereka memahami satu perihal nan sering luput dari perhatian. Seorang legenda memang bisa mengubah pertandingan. Tetapi sebuah bangsa nan percaya kepada legendanya bisa mengubah sejarah.
Apakah Argentina bakal kembali menjadi juara dunia? Belum ada nan tahu. Piala Dunia belum selesai. Misi dan sihir Messi untuk mengakhiri pengabdiannya berbareng tim nasional dengan satu mahkota terakhir juga belum selesai.
Namun momen epik melawan Mesir telah memberikan pelajaran nan rasanya bakal memperkuat jauh lebih lama daripada hasil pertandingan itu sendiri. Bahwa pada akhirnya trofi memang dapat mengabadikan seorang legenda. Tetapi nan membikin seorang legenda betul-betul utuh adalah ketika bangsanya memilih memperjuangkan dirinya, sebagaimana selama ini dia memperjuangkan bangsanya.
Jadi, siapa sebenarnya nan menyelamatkan sang legenda? Bukan satu, dua alias tiga gol. Bukan rentetan assist. Bukan pula keputusan wasit. Melainkan sebuah bangsa nan akhirnya menyadari bahwa orang nan selama ini selalu menyelamatkan mereka juga layak diselamatkan.
ND Santoso
Pengamat Sepak Bola








English (US) ·
Indonesian (ID) ·