Sinopsis Maryam Suci: Pertentangan Raja Herod, Rabi, dan Nabi Zakaria

5 jam yang lalu 5
 Pertentangan Raja Herod, Rabi, dan Nabi Zakaria Cuplikan serial TV Maryam.(Youtube Salam Media)

PERISTIWA masuknya Maryam binti Imran ke Baitul Maqdis (Kuil Yerusalem) menjadi salah satu bagian sejarah nan penuh dengan ketegangan sosial dan politik. Berdasarkan catatan narasi sejarah, kehadiran Maryam di tempat suci tersebut bukan sekadar pemenuhan nazar ibunya, melainkan titik kembali nan menguji integritas para pemuka kepercayaan dan otoritas penguasa saat itu.

Berikut sinopsis serial televisi dari Iran berjudul Maryam Suci bagian 3. Semoga menginspirasi.

Pertentangan Para Rabi dan Hukum Agama

Keinginan untuk menempatkan Maryam di Baitul Maqdis memicu perdebatan sengit di kalangan rabi. Banyak pihak dari golongan Farisi dan Saduki nan menentang keras rencana tersebut.

Alasan utama mereka ialah gender. Mereka menganggap kehadiran seorang wanita di dalam kuil sebagai pelanggaran terhadap norma kepercayaan nan bertindak saat itu.

Beberapa rabi apalagi menyebarkan kekhawatiran di tengah masyarakat bahwa jika seorang anak wanita masuk ke dalam kuil, perihal itu bakal mendatangkan bencana, apalagi ada klaim ekstrem nan menyebut genting kuil bisa runtuh. Ketakutan ini digunakan untuk menekan Nabi Zakaria, nan merupakan wali dari Maryam.

Diplomasi dan Strategi Raja Herod

Ketegangan itu akhirnya sampai ke telinga Raja Herod. Dalam pertemuan di istana, para rabi mencoba membujuk Herod untuk melarang Maryam masuk demi menjaga martabat Yahudi.

Namun, Herod memandang situasi ini dari perspektif pandang politik nan berbeda. Herod justru mengkritik para rabi nan dia sebut sebagai ular nan melilit kekayaan karun.

Ia menilai para rabi hanya memutarbalikkan kata-kata Tuhan demi kepentingan pribadi. Herod akhirnya memutuskan untuk mengizinkan Maryam masuk ke Baitul Maqdis dengan strategi tertentu. 

Strategi Herod ialah dengan berada di dalam kuil, Maryam bakal terpisah dari masyarakat. Ini membikin Maryam menjadi lebih mudah diawasi dan berada di bawah kendali otoritas kuil.

Keputusan Dewan dan Pembangunan Kamar Maryam

Setelah melalui perdebatan panjang di majelis (Sanhedrin), keputusan final diambil oleh Hillel dan Issachar. Maryam secara resmi diizinkan untuk melayani di Baitul Maqdis.

Keputusan itu mengejutkan banyak pihak. Namun menjadi kemenangan bagi Nabi Zakaria nan tetap teguh pada keyakinannya.

Nabi Zakaria, dibantu oleh pemuda berjulukan Yusuf dan seorang rabi berjulukan David, mulai membangun bilik unik (mihrab) untuk Maryam. Kamar ini dibangun di bagian atas agar Maryam dapat beragama dengan tenang dan tetap dalam pengawasan Nabi Zakaria.

Keteguhan Nabi Zakaria di Tengah Fitnah

Meskipun Maryam telah masuk ke kuil, tekanan terhadap Nabi Zakaria tidak berhenti. Para pemimpin mencoba merusak reputasi Zakaria di mata masyarakat kota.

Mereka mengejek Zakaria lantaran dia bekerja sebagai tukang kayu sederhana dan berbelanja di pasar seperti orang biasa. Mereka mempertanyakan status kenabiannya lantaran tidak mempunyai kekayaan alias pelayan.

Menanggapi perihal tersebut, Nabi Zakaria mengingatkan bahwa para nabi terdahulu, termasuk Daud dan Sulaiman, juga bekerja keras dengan tangan mereka sendiri. Ia menegaskan bahwa kesabaran dalam menghadapi ujian adalah karakter dari utusan Tuhan, meskipun kudu dikhianati alias ditinggalkan oleh kaumnya sendiri.

Catatan Sejarah: Maryam binti Imran dikenal lantaran kesucian dan kesalehannya sejak kecil. Kehadirannya di Baitul Maqdis menjadi awal dari beragam peristiwa besar nan nantinya bakal mengubah sejarah umat manusia.

Perebutan Hak Perwalian

Setelah Maryam resmi menjadi bagian dari pelayan Baitul Maqdis, muncul bentrok baru mengenai orang nan berkuasa menjadi wali alias penjaganya. Para rabi terkemuka, termasuk Michael dan Jeroboam, saling berselisih.

Michael mengeklaim bahwa sebagai pengajar utama di kuil, Maryam kudu berada di bawah bimbingannya. Sementara itu, pihak lain menuntut kewenangan perwalian berasas hubungan darah sebagai kerabat Imran.

Nabi Zakaria tetap pada posisinya bahwa adalah orang nan paling berkuasa menjaga Maryam, mengingat amanah nan dia jalankan sejak Maryam lahir. Perselisihan ini menunjukkan bahwa di kembali argumen agama, terdapat persaingan pengaruh dan kekuasaan di internal otoritas kuil Yerusalem.

Keputusan melalui Undian Pena

Untuk menyelesaikan sengketa nan semakin memanas, para rabi dan pemuka kepercayaan sepakat untuk melakukan undian sesuai dengan tradisi kuil. Mereka melemparkan pena mereka ke dalam air. Berdasarkan aturan, pemilik pena nan tetap memperkuat alias muncul di permukaan air bakal menjadi wali sah bagi Maryam.

Melalui ketetapan Allah, pena Nabi Zakaria terpilih sebagai pemenang. Meskipun sempat ada keberatan dan permintaan untuk mengulang undian, hasil tersebut tetap sah dan mengukuhkan Nabi Zakaria sebagai pelindung resmi Maryam di Baitul Maqdis.

Tanda-Tanda Keberkahan: Sejak kelahiran Maryam, masyarakat sekitar merasakan keberkahan nan luar biasa. Ternak menghasilkan susu lebih banyak, upaya masyarakat Galilea sukses, dan hasil panen melimpah. Banyak nan mulai bertanya-tanya apakah Maryam adalah sosok nan diprediksi bakal menjadi ibu dari Al-Masih.

Pesan Nabi Zakaria kepada Maryam

Memasuki masa pengabdian di kuil, Nabi Zakaria memberikan nasihat mendalam kepada Maryam nan saat itu tetap berumur enam tahun. Ia mengingatkan Maryam untuk tetap teguh meski kudu jauh dari ibunya dan hidup dalam kesendirian.

Nabi Zakaria menjelaskan bahwa kesendirian para nabi dan orang-orang saleh adalah salah satu rahasia Tuhan agar hati mereka hanya terpaut kepada Allah. Ia juga memperingatkan Maryam untuk waspada terhadap beberapa rabi dan pelayan kuil nan tetap menyimpan kebencian terhadap ayahnya, Imran, guna menghindari bentrok nan tidak perlu.

Kisah ini menegaskan bahwa perlindungan Allah senantiasa menyertai mereka nan dipilih-Nya, apalagi di tengah lingkungan nan penuh dengan intrik dan pertentangan manusiawi. (I-2)

Selengkapnya