Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan Amerika Serikat (AS) ke sejumlah pulau strategis Iran memicu spekulasi baru bahwa Washington tidak hanya mau melumpuhkan keahlian militer Teheran, tetapi juga berpotensi merebut wilayah Iran. Meski dinilai mempunyai keahlian militer untuk melakukannya, para analis memperingatkan langkah tersebut justru bisa menyeret AS ke perang darat nan jauh lebih besar dan mahal.
Dalam beberapa hari terakhir, pasukan AS menggempur Pulau Qeshm, Kish, dan Abu Musa, serta sejumlah kota pelabuhan di pesisir selatan Iran, termasuk Bandar Abbas. Serangan-serangan itu kembali memunculkan pertanyaan nan telah beredar sejak awal perang AS-Israel melawan Iran, apakah Washington sedang mempersiapkan operasi untuk merebut wilayah Iran?
Pada Maret lalu, sekitar satu bulan setelah perang pecah, dua pejabat AS nan tidak disebutkan namanya mengatakan kepada The Washington Post bahwa Departemen Pertahanan AS tengah mempersiapkan operasi terhadap Pulau Kharg, pulau nan menjadi jalur sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran. Pernyataan tersebut sempat memicu spekulasi mengenai kemungkinan operasi darat.
Spekulasi itu sempat mereda setelah kedua pihak menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni. Namun, rumor tersebut kembali mencuat setelah Presiden AS Donald Trump menolak menutup kemungkinan adanya operasi semacam itu dalam wawancara dengan Fox News pada Senin.
"Saya tidak bisa mengatakan itu kepada Anda lantaran jika saya melakukannya, itu bakal menjadi tindakan nan bodoh," kata Trump saat ditanya mengenai kemungkinan operasi tersebut, mengutip kajian dari Al Jazeera nan dirilis Kamis (16/7/2026).
Pernyataan Trump memunculkan pertanyaan apakah ancaman tersebut hanya retorika politik alias betul-betul menjadi opsi militer Washington.
AS Dinilai Mampu Rebut Pulau Iran
Andreas Krieg, guru besar madya bagian studi keamanan di King's College London, mengatakan secara taktis AS memang mempunyai keahlian untuk merebut pulau-pulau Iran.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Krieg mengatakan dengan support kekuatan udara, laut, dan pasukan amfibi nan memadai, serta kesiapan menghadapi eskalasi setelahnya, AS dapat menguasai sebuah pulau mini milik Iran.
AS saat ini diperkirakan mempunyai sekitar 50.000 personel militer nan ditempatkan di Timur Tengah, baik di pangkalan permanen maupun pos-pos militer mini di kawasan.
Senada, guru besar politik Timur Tengah Universitas Georgetown, Nader Hashemi, mengatakan AS bukan hanya bisa merebut pulau-pulau Iran, tetapi juga secara logistik dapat mendudukinya lantaran tetap menjadi kekuatan militer terbesar di dunia.
Namun menurut Hashemi, persoalan utamanya bukan kemampuan, melainkan biaya nan kudu ditanggung.
Krieg juga menegaskan bahwa merebut pulau jauh berbeda dengan mempertahankannya.
"Merebut sebuah pulau untuk sementara waktu sangat berbeda dengan mempertahankannya, memasok logistiknya, dan memperoleh untung strategis darinya," ujarnya.
Ia menilai Pulau Qeshm bakal menjadi sasaran nan paling susah lantaran ukurannya sangat besar dan letaknya menempel langsung dengan daratan utama Iran, bukan pulau terpencil.
Pulau-pulau nan lebih mini seperti Hengam memang lebih mudah direbut, tetapi tetap berada dalam jangkauan artileri, drone, rudal, dan serangan kapal sigap Iran.
Menurut Krieg, andaikan AS berupaya merebut beberapa pulau sekaligus, operasi tersebut bukan lagi sekadar serangan terbatas, melainkan telah berubah menjadi kampanye amfibi berskala besar.
Butuh Ribuan Tentara
Krieg memperkirakan operasi terbatas saja memerlukan sedikitnya 5.000 hingga 10.000 personel militer.
"Operasi terbatas kemungkinan memerlukan kekuatan awal sedikitnya 5.000 hingga 10.000 personel, jika menghitung pasukan tempur, pertahanan udara, insinyur, logistik, tenaga medis, hingga unsur komando," katanya.
Jumlah tersebut bisa meningkat drastis andaikan beberapa pulau menjadi sasaran alias andaikan tujuan operasi melampaui sekadar merebut wilayah pada tahap awal.
Menurutnya, seluruh pasukan itu bakal berada dalam jangkauan tembakan langsung dari daratan utama Iran.
"Kapal logistik, kapal pendarat, dan helikopter kudu melintasi perairan nan terpapar rudal, drone, ranjau, dan artileri," ujar Krieg.
Ia menambahkan Iran tidak perlu buru-buru merebut kembali pulau nan diduduki AS.
"Iran tidak perlu segera merebut kembali pulau-pulau itu. Mereka cukup mengubahnya menjadi posisi Amerika nan mahal dan memalukan secara politik melalui serangan nan terus-menerus," katanya.
Menurut Krieg, AS memang bisa memasok pasukan tersebut, tetapi kudu terus menjaga perlindungan laut, superioritas udara, serta menekan sistem persenjataan Iran secara berkelanjutan.
"Misi menjaga pasokan justru bakal menjadi misi utama. Apa nan awalnya merupakan operasi untuk melindungi pelayaran dapat dengan sigap berubah menjadi komitmen pendudukan wilayah tanpa pemisah waktu," ujarnya.
Sulit Hentikan Ancaman Hormuz
Krieg juga menilai merebut pulau-pulau Iran tidak otomatis menghentikan ancaman terhadap Selat Hormuz.
Ia menjelaskan Iran tetap dapat meluncurkan rudal maupun drone dari daratan utama sehingga ancaman terhadap pelayaran internasional tetap tetap ada.
Untuk betul-betul menghilangkan keahlian Iran mengganggu lampau lintas di Selat Hormuz, AS kudu menghancurkan sistem pertahanan Iran di pesisir selatan, apalagi berpotensi menduduki sebagian wilayah pantai negara itu.
"Pada titik itu, operasi tersebut bukan lagi sekadar perebutan pulau. Itu bakal menjadi awal dari perang darat nan jauh lebih besar," kata Krieg.
Hashemi menilai skenario tersebut sangat mini kemungkinan terjadi.
Menurutnya, operasi seperti itu memerlukan kampanye pengeboman nan jauh lebih intens dibandingkan serangan nan terjadi sejauh ini.
"Semua ini tetap berada pada tingkat teori, bukan kemungkinan nan realistis," ujar Hashemi.
Risiko Besar bagi Dunia
Para analis memperingatkan bahwa andaikan AS betul-betul merebut pulau-pulau Iran, Teheran kemungkinan bakal menganggapnya sebagai eskalasi besar.
Krieg mengatakan Iran nyaris pasti bakal meningkatkan penanaman ranjau di Selat Hormuz, memperbanyak serangan terhadap kapal-kapal dagang, pangkalan militer AS di kawasan, hingga prasarana daya negara-negara Teluk.
Menurutnya, perusahaan pelayaran kemungkinan tetap bakal menghindari Selat Hormuz siapa pun nan menguasai pulau-pulau tersebut. Premi asuransi kapal diperkirakan melonjak tajam, sementara proses pembersihan ranjau memerlukan waktu lama.
Langkah itu juga berpotensi merusak hubungan AS dengan negara-negara Teluk nan sebenarnya menginginkan Selat Hormuz kembali dibuka, tetapi tidak mau wilayah mereka berubah menjadi pedoman operasi militer maupun sasaran serangan Iran.
Krieg menyimpulkan bahwa meskipun perebutan pulau-pulau Iran dapat menghasilkan kemenangan simbolis secara militer, langkah tersebut justru berisiko mengubah bentrok mengenai kebebasan pelayaran menjadi perang perebutan wilayah dan menyeret Washington ke dalam komitmen perang darat nan selama ini berupaya dihindarinya.
(luc/luc)
Addsource on Google

5 hari yang lalu
7







English (US) ·
Indonesian (ID) ·