Soal Survei KDM, Pengamat Sebut Masih Terlalu Dini Bicara Pilpres 2029

46 menit yang lalu 2
Soal Survei KDM, Pengamat Sebut Masih Terlalu Dini Bicara Pilpres 2029 Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi(Dok.MI)

PENGAMAT Komunikasi Politik dari Swarna Dwipa Institute (SDI), Frans Immanuel Saragih mengimbau masyarakat untuk menyikapi rilis survei terbaru dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indikator Politik Indonesia secara proporsional. Ia menilai hasil riset nan memuat dinamika kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto hingga elektabilitas Dedi Mulyadi tersebut cukup diposisikan sebagai referensi info tanpa perlu direspons secara reaktif.

Ia menekankan bahwa setiap lembaga survei mempunyai metodologi tersendiri, sehingga publik disarankan menunggu rilis dari lembaga riset andal lainnya untuk membandingkan peta politik secara objektif.

"Hasil survei sebaiknya dipandang sebagai informasi. Tidak perlu disikapi secara berlebihan alias terlalu reaktif. Kita tunggu saja hasil dari lembaga survei lainnya. Nanti publik bisa menilai mana nan paling mendekati kondisi sebenarnya," ujar Frans saat dihubungi, Kamis (30/7/2026).

Menanggapi simulasi nan menempatkan elektabilitas Dedi Mulyadi di atas Prabowo Subianto, Frans mengingatkan bahwa kedua tokoh tersebut berada di bawah naungan partai politik nan sama, ialah Partai Gerindra.

Oleh lantaran itu, dia menilai spekulasi mengenai potensi persaingan terbuka alias perpecahan di antara keduanya menuju Pilpres 2029 tetap terlalu awal untuk disimpulkan saat ini.

"Agak susah memandang dua tokoh ini bakal berhadapan lantaran berasal dari rumah politik nan sama. Namun jika berbincang mengenai pasangan calon pada 2029, tentu semua kemungkinan tetap terbuka. Tetapi saat ini tetap terlalu dini," terangnya.

Frans memperkirakan poros koalisi dan peta persaingan capres-cawapres baru bakal mengristal secara riil pada akhir 2027 hingga awal 2028 mendatang. Daripada daya publik tersedot dalam polemik angka-angka survei politik pasca-pemilu, Frans menyarankan agar semua pihak lebih berfokus mengantisipasi akibat gejolak geopolitik dunia terhadap perekonomian dan stabilitas nasional.

"Di tengah situasi geopolitik dunia nan sedang bergejolak, lebih krusial bagi kita untuk mengantisipasi beragam kemungkinan nan dapat memengaruhi Indonesia dibanding terlalu larut dalam perdebatan hasil survei," pungkas Frans. (H-4)

Selengkapnya