Status Keanekaragaman Hayati Jawa hingga Papua: Jutaan Spesies belum Teridentifikasi

3 hari yang lalu 10
 Jutaan Spesies belum Teridentifikasi Ilustrasi.(Magnific)

PEMERINTAH Indonesia berbareng beragam pemangku kepentingan resmi menyusun empat arsip strategis mengenai Status Keanekaragaman Hayati wilayah Bali-Nusa Tenggara, Jawa, Maluku, dan Papua. Dokumen ini berfaedah sebagai pilar pendukung Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025-2045, nan menyajikan potret ilmiah terkini mengenai karakteristik, potensi, hingga tantangan pengelolaan kekayaan alam di tingkat ekosistem, spesies, dan genetik.

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Nizhar Marizi, menyatakan bahwa pengelolaan keanekaragaman hayati telah menjadi prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Langkah ini diimplementasikan melalui Asta Cita 2 nan berfokus pada Ekonomi Hijau.

"Komitmen ini diperkuat dengan disusunnya IBSAP 2025-2045 pada 2024 sebagai kompas pengelolaan keanekaragaman hayati Indonesia," ujar Nizhar di Jakarta, Kamis (18/7).

Fondasi Data untuk Indonesia Emas 2045

Ketersediaan info ilmiah nan mutakhir dinilai menjadi fondasi krusial bagi pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based policy). Dengan memahami kekayaan hayati nan dimiliki, pemerintah dapat menentukan langkah perlindungan, pelestarian, serta pemanfaatan berkepanjangan nan menjadi modal pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Nizhar menekankan bahwa penyusunan arsip ini melibatkan pendekatan whole of government dan whole of society. "Prosesnya melibatkan akademisi, pemerintah daerah, bumi usaha, organisasi masyarakat sipil, hingga masyarakat lokal guna mengakomodasi beragam perspektif dan sumber data," tegasnya.

Senada dengan perihal tersebut, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH, Inge Retnowati, menyebut keanekaragaman hayati sebagai modal nasional (national capital) dengan nilai sosial, ekonomi, dan ekologi nan tinggi. Ia menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan nilai-nilai tersebut melalui tata kelola nan berbasis saintifik.

Tantangan Identifikasi Spesies

Indonesia diperkirakan mempunyai lebih dari 1,5 juta spesies. Lebih dari 30 persennya merupakan spesies endemik. Namun, tantangan besar tetap membentang lantaran banyak jenis nan hingga sekarang belum teridentifikasi dan memerlukan riset serta eksplorasi lebih mendalam.

Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andes Hamuraby Rozak, berambisi arsip ini menjadi rujukan ilmiah bagi kebijakan pembangunan nan selaras dengan konservasi. "Ilmu pengetahuan kudu menjadi landasan dan kerjasama sebagai kekuatan untuk menjaga kekayaan hayati Indonesia," jelas Andes.

Potret Kekayaan Flora di Berbagai Wilayah:

  • Jawa: Lebih dari 12.800 jenis tanaman dengan 601 jenis endemik.
  • Bali-Nusa Tenggara: 3.459 jenis tanaman dengan tingkat endemisitas mencapai 55 persen.
  • Maluku: Tercatat sebanyak 4.383 jenis flora.
  • Papua: Sekitar 8.000 jenis tanaman dengan tingkat endemisitas tinggi sebesar 58 persen.

Kehadiran arsip status keanekaragaman hayati ini diharapkan bisa membangun dasar bagi penilaian nilai ekonomi jasa ekosistem, sekaligus memastikan warisan alam Indonesia tetap terjaga bagi generasi mendatang. (I-2)

Selengkapnya