Desa nan berpenduduk sekitar 1.000 jiwa berjuntai pada mata air sebagai sumber utama untuk rumah tangga selama musim kemarau.
Penduduk desa Gunung Batur di Cilegon, Banten berjibaku membawa wadah air untuk mengumpulkan air di tengah perkiraan bahwa El Niño dapat menyebabkan kondisi nan lebih kering dari biasanya. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
Saat musim tandus semakin mencekam di wilayah desa Gunung Batur, provinsi Banten, penduduk mencari pengganti lain untuk mendapatkan air minum lantaran pemerintah kandas membangun prasarana nan memadai untuk menyediakan air nan cukup bagi masyarakat desa. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
Desa nan berpenduduk sekitar 1.000 jiwa ini berjuntai pada mata air ini sebagai sumber air utama untuk rumah tangga selama musim tandus lantaran permukaan air di sungai menurun hingga memperlihatkan sebagian besar dasar sungai. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
Karena kekhawatiran bakal kondisi kekeringan nan semakin memburuk, masyarakat desa telah berulang kali melakukan perjalanan ke kaki Gunung Batur untuk mengambil dan menyimpan air untuk memasak, mencuci, dan minum. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
Di antara mereka adalah Salminah, 55 tahun, nan mengatakan bahwa tugas harian tersebut semakin melelahkan lantaran ketidakpastian pasokan air semakin meningkat. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
“Kami sangat memerlukan support selama musim ini. Saya cukup lelah, dan saya pikir mata air bakal segera habis, jadi kami kudu terus menyimpan air ini,” kata Salminah dikutip dari Reuters. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
Warga cemas mata air bakal semakin menyusut seiring berjalannya musim kemarau, memaksa family untuk menghabiskan lebih banyak waktu mengumpulkan air. Dengan sedikitnya curah hujan nan dilaporkan di beberapa bagian Jawa dalam beberapa minggu terakhir, banyak masyarakat desa mulai menyimpan persediaan air, cemas sumber air utama mereka mungkin tidak bakal cukup untuk beberapa bulan mendatang. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
source on Google

1 hari yang lalu
5







English (US) ·
Indonesian (ID) ·