Donald Trump.(Al Jazeera)
POPULARITAS Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan terus merosot di tengah tekanan biaya hidup nan tinggi dan pesimisme publik terhadap penanganan bentrok dengan Iran. Berdasarkan jajak pendapat terbaru dari Washington Post-Ipsos, kebanyakan penduduk Amerika memberikan penilaian negatif terhadap keahlian sang presiden pada sejumlah rumor krusial.
Tingkat kepuasan publik (approval rating) Trump saat ini tertahan di nomor 37 persen, nomor nan identik dengan posisinya saat meninggalkan kedudukan pada Januari 2021. Sementara itu, tingkat ketidakpuasan (disapproval) mencapai 61 persen. Di kalangan pemilih terdaftar, support terhadap Trump berada di nomor 40 persen, tidak banyak berubah sejak musim semi lalu.
Basis Pendukung Republik Mulai Melemah
Salah satu temuan paling mencolok dalam survei ini ialah memudarnya antusiasme di kalangan pemilih Partai Republik yang selama satu dasawarsa terakhir menjadi pedoman kekuatan utama Trump. Hanya 15 persen responden nan menyatakan sangat setuju dengan kinerjanya, turun dari 19 persen pada Februari lalu.
Kondisi itu menjadi sinyal ancaman bagi Partai Republik nan berupaya mempertahankan kontrol di Kongres pada pemilihan sela (midterm elections) November mendatang. Jika Demokrat sukses mengambil alih salah satu alias kedua bilik di Kongres, dinamika pemerintahan Trump di dua tahun terakhir masa jabatannya diprediksi bakal berubah drastis.
Ekonomi Jadi Beban Politik
Sektor ekonomi, nan pada periode pertama Trump dianggap sebagai kekuatan, sekarang berbalik menjadi liabilitas politik. Hanya 33 persen penduduk Amerika nan menyetujui manajemen ekonomi pemerintah saat ini. Beberapa poin utama mengenai pesimisme ekonomi meliputi:
- Biaya Hidup: Dua pertiga penduduk Amerika (66 persen) menyatakan nilai bahan makanan tidak lagi terjangkau, naik signifikan dari 45 persen sebelum bentrok Iran pecah.
- Standar Hidup: Sebanyak 59 persen responden ragu standar hidup family mereka bakal membaik, berbanding terbalik dengan kondisi tahun 2018 saat 65 persen merasa optimistis.
- Pajak: Upaya rebranding kebijakan pajak menjadi Working Families Tax Cut belum membuahkan hasil. Hanya 19 persen penduduk nan merasa bayar pajak lebih sedikit, sementara 25 persen merasa bayar lebih mahal.
Pesimisme terhadap Konflik Iran
Kebijakan luar negeri, khususnya mengenai Iran, juga mendapat rapor merah dengan tingkat persetujuan hanya 29 persen. Meskipun Trump menjanjikan negosiasi bakal menurunkan nilai bahan bakar, publik tetap skeptis. Harga bensin rata-rata berada di nomor US$3,89 (sekitar Rp63.000) per galon, jauh lebih tinggi dibanding sebelum serangan AS dan Israel ke Iran.
Sekitar 68 persen penduduk Amerika menilai perang dengan Iran tidak layak untuk diperjuangkan. Angka ini setara dengan titik terendah support publik terhadap perang Afghanistan pada 2013. Selain itu, dua pertiga responden tidak percaya bahwa tindakan militer maupun negosiasi saat ini bisa mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
Secara keseluruhan, lebih dari separuh penduduk Amerika menilai kepemimpinan Amerika Serikat di mata bumi semakin melemah di bawah kepemimpinan Trump saat ini. Dengan kondisi ekonomi nan belum stabil dan bentrok luar negeri nan berlarut-larut, posisi politik Trump dan Partai Republik menghadapi tantangan besar menjelang pemilu mendatang. (The Washington Post/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·