Tak Suka Makanan Manis Bukan Berarti Bebas Diabetes, Ini Penjelasan Dokter

4 hari yang lalu 11
Tak Suka Makanan Manis Bukan Berarti Bebas Diabetes, Ini Penjelasan Dokter Ilustrasi(Magnific)

BANYAK orang percaya bahwa mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis sudah cukup untuk terhindar dari diabetes. Namun, dugaan tersebut tidak sepenuhnya benar. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin Metabolik dan Diabetes, dr Hamidah mengatakan glukosuria tidak hanya dipicu kebiasaan mengonsumsi gula.

Menurut Hamidah, tetap banyak masyarakat nan mengaitkan glukosuria semata-mata dengan makanan manis. Padahal, penyakit ini berangkaian erat dengan langkah tubuh mengelola glukosa sebagai sumber energi.

"Banyak orang mengira bahwa glukosuria hanya berasosiasi dengan kegemaran makan manis. Padahal ada perihal nan jauh lebih penting, ialah gimana tubuh kita mengelola daya untuk kebutuhan hidup sehari-hari," ujar Hamidah dikutip dari penjelasannya dalam akun media sosial @pramitalab.id.

Ia menjelaskan bahwa tubuh memperoleh daya dari glukosa. Agar glukosa dapat masuk ke dalam sel dan digunakan sebagai sumber energi, tubuh memerlukan hormon insulin. Ketika produksi insulin terganggu alias tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif, gula bakal menumpuk di dalam aliran darah sehingga memicu diabetes.

"Energi diperoleh dari glukosa, di mana glukosa masuk ke dalam sel kemudian dijadikan sebagai sumber energi. Untuk memasukkan gula ke dalam sel, kita memerlukan insulin. Apabila insulin ini terganggu, maka bakal terjadi penumpukan gula di dalam pembuluh darah kita," jelasnya.

Bukan Hanya Pola Makan, Banyak Faktor Lain Memicu Diabetes

Hamidah menuturkan Diabetes Melitus terdiri atas empat jenis, ialah glukosuria jenis 1, glukosuria jenis 2, glukosuria gestasional nan terjadi pada ibu hamil, serta glukosuria nan disebabkan oleh kondisi tertentu.

Selain konsumsi gula, Hamidah menjelaskan ada sejumlah aspek nan dapat meningkatkan akibat seseorang terkena diabetes, yaitu:

  • Memiliki riwayat family alias aspek keturunan nan menderita diabetes.
  • Berasal dari ras alias etnis tertentu nan mempunyai akibat lebih tinggi mengalami diabetes.
  • Mengalami kelebihan berat badan alias obesitas.
  • Kurang melakukan aktivitas bentuk alias jarang berolahraga.
  • Menderita tekanan hipertensi (hipertensi).
  • Memiliki kadar kolesterol nan tinggi.
  • Pernah mengalami glukosuria saat mengandung (diabetes gestasional).
  • Pernah melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 4 kilogram.

Artinya, seseorang tetap mempunyai kesempatan terkena glukosuria meski telah membatasi konsumsi makanan manis andaikan tetap mempunyai faktor-faktor akibat tersebut.

Waspadai Gejala Awal Diabetes

Lebih lanjut, Hamidah menyebut glukosuria sebagai silent killer lantaran pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan keluhan nan jelas. Ia mengingatkan masyarakat untuk mengenali indikasi nan dikenal sebagai 3P, ialah polidipsi (sering haus), polifagi (sering alias sigap lapar), dan poliuri (sering buang air kecil, terutama pada malam hari).

"Diabetes Melitus sering disebut sebagai silent killer di mana pada awalnya tidak terasa. Waspadai adanya 3P ialah Polidipsi: sering haus, Polifagi: sigap lapar, dan Poliuri: sering kencing terutama di malam hari. Apabila didapatkan penurunan berat badan tanpa karena nan jelas, waspada, itu sirine merah," katanya.

Cara Pencegahan

Meski demikian, Hamidah menegaskan glukosuria merupakan penyakit nan dapat dicegah maupun dikendalikan andaikan masyarakat menerapkan pola hidup sehat sejak dini.

Ia menyarankan masyarakat menjalani pola makan bergizi seimbang, membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak, rutin beraktivitas bentuk setidaknya 30 menit setiap hari, serta melakukan pemeriksaan gula darah secara berkala.

"Namun, ada berita baiknya, di mana glukosuria bisa dicegah dan dikendalikan. Kuncinya adalah pola makan seimbang, batasi gula, garam, dan lemak. Mulailah aktivitas bergerak minimal 30 menit sehari, dan nan paling krusial adalah cek gula darah secara rutin. Mengetahui lebih awal adalah langkah terbaik untuk menyelamatkan masa depanmu," tutur Hamidah. (Z-2)

Selengkapnya