Di tengah kemarau, petani memilih memanen lebih awal. Bukan lantaran hasilnya sudah maksimal, tapi tak mau seluruh tanamannya meninggal sebelum sempat dipanen.
Seorang petani memanen padi di Desa Kali Putih, Bogor, Jawa Barat, Senin (10/8/2026). Lahan pertanian seluas puluhan hektar nan dikelola petani setempat untuk menanam padi mengalami kandas panen sejak awal Juni 2026 akibat kekeringan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Keluh kesah para petani, padi nan dipanennya memang mulai menguning, tetapi belum betul-betul sempurna. Di tengah kemarau, petani memilih memanen lebih awal. Bukan lantaran hasilnya sudah maksimal, melainkan lantaran tak mau seluruh tanamannya meninggal sebelum sempat dipanen. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Di sekelilingnya, tanah sawah tampak retak-retak. Aliran air nan selama ini menghidupi lahan tadah hujan itu telah lama berhenti. Sawah nan hanya mengandalkan turunnya hujan berubah menjadi hamparan nan kering.(CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Iya, ini sebenarnya belum waktunya panen. Normalnya tetap sekitar dua minggu lagi. Tapi lantaran sudah kekeringan dan tidak ada air, terpaksa dipanen sekarang daripada lenyap semuanya," ungkapnya petani tersebut. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Keputusan memanen lebih awal membuatnya kudu bersiap menerima hasil nan jauh dari harapan. Dari lahan puluhan hektar, biasanya dia bisa menghasilkan sekitar delapan kuintal gabah. Namun musim tanam kali ini, dia hanya berambisi tetap bisa membawa pulang sebagian mini hasil panennya. "Kalau hasilnya pasti tidak maksimal. Mudah-mudahan bisa dapat tiga kuintal saja, nan krusial modal tanam bisa kembali untuk persiapan musim berikutnya," ujarnya. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Petani mengaku musim tanam kali ini meleset dari perkiraannya. Ia sempat berambisi hujan tetap turun meski tandus mulai datang, sehingga memilih menanam bibit padi berumur pendek sekitar 70 hari. Namun hujan nan ditunggu tak kunjung datang, sementara tandus justru berjalan lebih cepat. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
"Saya kira bulan ini tetap ada hujan. Ternyata tandus datang lebih dulu. Untungnya nan saya tanam tetap bisa dipanen walaupun dipercepat. Kalau petani lain banyak nan memakai bibit umur 90 sampai 100 hari, sekarang banyak nan kandas panen lantaran kekeringan," tuturnya. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Dampak kekeringan juga langsung terasa pada hasil produksi. Dalam kondisi normal, contohnya satu hektare sawah miliknya bisa menghasilkan sekitar tiga hingga empat ton gabah. Namun musim ini, produksinya diperkirakan ambruk menjadi hanya sekitar 1,2 ton per hektare. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·