Plt Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja menghadiri aktivitas High Level Meeting (HLM) Lintas Kementerian nan diselenggarakan BPS Jawa Barat di Ballroom Nuanza Hotel & Convention, Cikarang Selatan.(MI/ANTON KUSTEDJA)
PEMERINTAH Kabupaten Bekasi terus memperkuat langkah strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) nan kompeten melalui pengembangan pendidikan dan training vokasi berbasis kebutuhan industri.
Upaya itu diyakini menjadi solusi untuk menekan angka pengangguran sekaligus meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal di tengah pesatnya pertumbuhan area industri.
Komitmen tersebut disampaikan Plt Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja seusai menghadiri High Level Meeting (HLM) Lintas Kementerian bertema ‘Kolaborasi Strategis Sensus Ekonomi 2026, Fondasi Daya Saing Industri Masa Depan’ nan diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat di Cikarang Selatan, Selasa (21/7).
Kegiatan itu turut dihadiri Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dan Kepala BPS Pusat Amalia Adininggar Widyasanti.
"Kabupaten Bekasi tetap mempunyai nomor pengangguran sekitar 8%. Karena itu, kita memerlukan penguatan Balai Latihan Kerja (BLK) dan pendidikan vokasi nan betul-betul sesuai dengan kebutuhan industri," ujar Plt Bupati Bekasi, Rabu (22/7).
Menurutnya, Kabupaten Bekasi sebagai area industri terbesar di Asia Tenggara mempunyai kesempatan besar untuk menyerap tenaga kerja lokal. Namun, kesempatan itu kudu diimbangi dengan kesiapan kompetensi para pencari kerja agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan nan terus berkembang.
"Kalau kita memberikan pelatihan, tetapi nan diajarkan tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan, tentu hasilnya tidak optimal. Karena itu nan kudu dilakukan adalah menyelaraskan kebutuhan industri dengan materi pelatihan," tegas dia.
PEMETAAN KEBUTUHAN TENAGA KERJA
Asep menjelaskan, Pemkab Bekasi bakal memperkuat kerjasama antara Dinas Ketenagakerjaan dan pengelola area industri untuk memetakan kebutuhan tenaga kerja secara berkala. Dari pemetaan tersebut, pemerintah bakal menyusun program training vokasi nan lebih adaptif terhadap perkembangan bumi upaya dan bumi industri.
"Saya bakal mengundang sebelas area industri untuk duduk bersama. Kita mau mengetahui secara rinci tenaga kerja seperti apa nan dibutuhkan perusahaan. Setelah itu baru kita siapkan melalui program vokasi dan training kerja," tandasnya.
Ia menilai pola tersebut bakal menciptakan keterhubungan nan lebih kuat antara bumi pendidikan, pelatihan, dan bumi kerja. Dengan demikian, lulusan training tidak lagi mengalami kesenjangan kompetensi ketika memasuki pasar kerja.
"Anak-anak kita kudu dipersiapkan sejak awal. Jangan ketika perusahaan memerlukan tenaga kerja, kompetensinya justru tidak sesuai. Vokasi kudu menjadi jembatan antara kebutuhan industri dengan kesiapan tenaga kerja lokal," lanjut Asep.
Dia mengungkapkan dirinya juga telah berbincang langsung dengan Menaker mengenai penguatan program vokasi di Kabupaten Bekasi. Mengingat wilayah ini menjadi salah satu pusat industri nasional, support pemerintah pusat dinilai krusial untuk memperluas akses training kerja nan relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan manufaktur modern.
SINERGI DENGAN DUNIA INDUSTRI
Selain meningkatkan kompetensi tenaga kerja, sinergi antara pemerintah wilayah dan bumi industri juga diharapkan bisa memperbesar kesempatan penyerapan tenaga kerja lokal.
Menurut Plt Bupati, keberadaan ribuan perusahaan di Kabupaten Bekasi kudu memberikan akibat nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.
"Kita mau kerja sama antara pemerintah wilayah dengan perusahaan semakin kuat. Apa nan dibutuhkan industri, itulah nan bakal kita siapkan melalui pendidikan dan pelatihan. Dengan begitu masyarakat Kabupaten Bekasi mempunyai kesempatan kerja nan lebih besar," tandasnya.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·