Citra MQN01 nan diperoleh oleh Teleskop Luar Angkasa James Webb, dari medan protokluster MQN01(A. Travascio (INAF) dkk. / A&A 2026)
PARA astronom sukses mendeteksi embusan "asap" gas superpanas nan berasal dari salah satu quasar tertua di alam semesta. Menggunakan Teleskop Sinar-X Chandra milik NASA, struktur gas kosmik ini tercatat mempunyai suhu dahsyat hingga 36 juta derajat Fahrenheit alias sekitar 20 juta Kelvin.
Raksasa bercahaya ini ditenagai oleh mesin utama berupa lubang hitam supermasif (supermassive black hole). Embusan gas dari lubang hitam tersebut membentang hingga 100.000 tahun sinar di pusat protokluster nan tengah membentuk galaksi, nan diberi nama MQN01. Fenomena ini berasal dari masa 2,1 miliar tahun setelah peristiwa Big Bang.
Struktur gas superpanas tersebut diprediksi bakal berevolusi menjadi atmosfer nan menyelimuti kluster galaksi modern, alias nan dikenal sebagai intracluster medium (ICM). Melalui temuan ini, para peneliti untuk pertama kalinya dapat menyaksikan momen tepat dalam sejarah kosmik ketika atmosfer galaksi mulai terbentuk dan berkumpul.
Anggota tim peneliti dari University of Milan-Bicocca, Sebastiano Cantalupo, menjelaskan pentingnya penemuan ini.
"[Data ini] menunjukkan sifat-sifat luar biasa dari gas nan dapat memberi kita wawasan pertama tentang gimana fase panas dari circumgalactic medium ini terbentuk, nan sekarang kita lihat sebagai intracluster medium," ujar Cantalupo.
"Kami percaya telah mengidentifikasi suatu fase dalam kehidupannya di mana gas dingin jatuh ke dalam potensi gravitasi halo masif ini dan dipanaskan oleh guncangan gravitasi, mencapai suhu sekitar 20 juta Kelvin," tambahnya.
Penemuan ini terbilang langka lantaran quasar di pusat MQN01 tergolong radio-quiet (redup gelombang radio). Selama ini, penemuan sinar-X semacam ini hanya dapat ditemukan pada quasar nan berada di galaksi radio-loud, di mana pancaran sinar-X terdistorsi oleh semburan partikel berkecepatan cahaya. Pada galaksi radio-quiet, pancaran sinar-X nan terdeteksi bersih dari kontaminasi jet plasma, sehingga murni berasal dari "napas" kosmik sang quasar.
Hasil tersebut didapatkan setelah tim melakukan observasi sinar-X selama 180 jam. Untuk mengisolasi sinar redup gas dari silau tajam di sekitar lubang hitam, peneliti menerapkan teknik kajian nan biasa digunakan pada galaksi Seyfert.
Ketua tim peneliti dari INAF, Andrea Travascio, mengaku sempat meragukan hasil temuan awal mereka sebelum akhirnya terverifikasi.
"Mengingat sifat info nan luar biasa, kami memeriksa setiap penjelasan alternatif: mulai dari aliran keluar buatan hingga kontaminasi instrumental alias pengaruh tak terduga lainnya. Namun, setiap skenario pengganti menghadapi batas teoretis nan tak teratasi. Penjelasan termal adalah satu-satunya nan konsisten dengan info fisik," kata Travascio.
Penelitian nan diterbitkan di jurnal Astronomy & Astrophysics pada Jumat (24/7) ini membuktikan ketangguhan Teleskop Chandra nan tetap menghasilkan penemuan krusial di fase akhir operasinya. Saat ini, para peneliti sedang menganalisis ratusan info quasar lain untuk mengetahui apakah fase pemanasan ini umum terjadi pada protokluster alias MQN01 merupakan kasus langka. (Space/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·