Para intelektual bekerja di Teleskop Luar Angkasa Roman.(NASA/Sophia Roberts)
NASA resmi menyelesaikan proses pengisian bahan bakar pada observatorium generasi terbarunya, Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman. Langkah krusial ini menandai persiapan akhir sebelum teleskop canggih tersebut diluncurkan ke orbit menggunakan roket Falcon Heavy milik SpaceX nan dijadwalkan pada 30 Agustus mendatang.
Proses pengisian bahan bakar selesai dilakukan pada Sabtu (25/7) menggunakan hydrazine, jenis bahan bakar berkekuatan guna tinggi nan biasa digunakan pada wahana antariksa NASA. Bahan bakar ini nantinya dipakai untuk menyalakan dua jenis pendorong (thruster). Pendorong tersebut berfaedah menjaga posisi teleskop di orbit tujuannya sekaligus memastikan panel surya selalu menghadap ke Matahari sebagai sumber daya utama.
Peluncuran ini menjadi capaian besar bagi bumi astronomi. Proyek teleskop Roman dinilai menjadi standar tinggi dalam pembuatan wahana antariksa lantaran perakitannya sukses diselesaikan sembilan bulan lebih sigap dari agenda semula serta berada di bawah alokasi anggaran nan direncanakan.
Setelah meluncur dari Bumi, teleskop ini bakal menuju ke titik Lagrange 2 (L2), sebuah wilayah nan stabil secara gravitasi dan berjarak sekitar 1,6 juta kilometer dari Bumi. Posisi L2 dipilih agar wahana antariksa dapat menghemat penggunaan bahan bakar saat mempertahankan posisinya. Di letak ini pula Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) saat ini beroperasi, sehingga kedua observatorium tersebut nantinya dapat saling melengkapi.
Meskipun sama-sama memanfaatkan spektrum inframerah, teleskop Roman mempunyai kelebihan tersendiri. Melalui instrumen utamanya, Wide Field Instrument (WFI), teleskop Roman bisa mengambil gambar alam semesta inframerah dengan bagian pandang hingga 50 kali lebih luas dibandingkan gambaran nan dihasilkan oleh James Webb.
Kapasitas pandangan nan sangat luas tersebut memungkinkan teleskop Roman memetakan wilayah antariksa dalam skala besar, sementara James Webb konsentrasi melakukan pembesaran pada objek tertentu. Dengan demikian, teleskop Roman dapat mendeteksi target-target baru nan menarik alias menangkap kejadian kosmis berdurasi singkat nan mungkin terlewatkan.
Dari sisi pemrosesan data, teleskop Roman diperkirakan bakal menghasilkan lebih dari 500 terabita info kosmis setiap tahunnya. Sebagai perbandingan, Teleskop Luar Angkasa Hubble menghasilkan total sekitar 400 terabita info sepanjang 35 tahun masa pengabdiannya.
Data dalam jumlah masif ini diharapkan dapat memperdalam pemahaman manusia mengenai beragam kejadian misterius di alam semesta, seperti daya gelap, materi gelap, ledakan supernova, hingga pencarian planet di luar tata surya (eksoplanet) nan berpotensi dihuni.
Mengenai potensi penemuannya, Dominic Benford, intelektual program Teleskop Nancy Grace Roman, menyampaikan antusiasmenya terhadap cakupan pengamatan teleskop ini.
"Jadi, kita bakal memandang ribuan supernova, dan beberapa di antaranya bakal berada lebih jauh dibandingkan supernova mana pun nan pernah kita lihat sebelumnya," kata Dominic Benford.
Jika seluruh tahapan peluncuran melangkah sesuai rencana, duet teleskop Roman dan James Webb di titik L2 bakal menjadi kerjasama strategis nan membuka babak baru dalam eksplorasi alam semesta. (Space/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·