Terapkan Mandatori BBM Biodiesel B50 1 Juli, Indonesia Terdepan!

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Komisi XII DPR RI mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan negara pionir dalam memanfaatkan campuran biodiesel berbasis minyak sawit hingga 50% (B50) pada Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar.

Seperti diketahui, pemerintah bakal memberlakukan BBM biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026.

Kebijakan tersebut dinilai menempatkan Indonesia sebagai negara terdepan dalam memanfaatkan daya baru terbarukan berbasis nabati untuk memperkuat ketahanan daya nasional.

Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menyatakan pencapaian tersebut merupakan lompatan besar nan belum pernah dilakukan oleh negara lain di dunia.

Dia menekankan bahwa optimasi sumber daya domestik melalui program B50 menjadi bukti nyata kesungguhan Indonesia dalam menjalankan transisi daya di tengah dinamika global.

"Jauh-jauh hari kebijakan pemerintah sudah tercermin dari di mana dalam rangka kita mendukung transisi energi, kita mengoptimalkan sumber daya nan kita miliki misalnya B40 nan bakal menjadi B50. Ini luar biasa. Tidak ada satu negara di bumi pun nan hari ini melaksanakan itu," ungkapnya dalam Energy Forum CNBC Indonesia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bambang menjelaskan bahwa posisi Indonesia saat ini jauh lebih maju dibandingkan dengan negara-negara tetangga di area regional, termasuk Malaysia. Meskipun Malaysia mempunyai industri kelapa sawit nan besar, tingkat pencampuran bahan bakar nabati di negara tersebut tercatat tetap berada di level nan jauh lebih rendah.

"Tadi saya tanya ke Eniya (Dirjen EBTKE Kementerian ESDM), itu nan kira-kira bisa mendekati Indonesia itu apa? Itu hanya Malaysia. Itu pun B10, B20. B10 baru direncanakan. Kita tanggal 1 Juli sudah B50. Ini tidak gampang. Berapa kapabilitas konsumsi Malaysia, berapa kapabilitas konsumsi dan produksi Indonesia? Kita besar," kata Bambang.

Keberhasilan dalam mengelola bauran daya ini turut memperkuat posisi Indonesia dalam indeks ketahanan daya dunia. JP Morgan menempatkan Indonesia pada urutan kedua dari 52 negara sebagai negara dengan ketahanan daya terbaik, nan mencerminkan efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga kesiapan pasokan.

"Ini bukan suatu rilis nan sekadar menyenangkan hati, tetapi menggambarkan gimana effort Indonesia dalam mengatasi semuanya. Pemerintah sudah on the track, ini kerja sama semua pihak dan kita berambisi kerja keras ini kita jaga bersama-sama untuk menjamin pasokan daya untuk masyarakat," tandasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, pihaknya telah menyiapkan seluruh tahapan implementasi. Menurutnya, dasar norma penerapan B50 telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 257 Tahun 2026.

"Nah, itu begini konsepnya adalah dimulai mandatorinya per 1 Juli. Per 1 Juli dengan B50. Lalu poin nan kedua adalah masa transisi. Masa transisi ditetapkan 3 bulan," kata Eniya saat ditemui usai aktivitas Energy Forum CNBC Indonesia.

Eniya menjelaskan, masa transisi tersebut bermaksud memberikan waktu bagi pelaku upaya untuk menghabiskan stok biodiesel B40 nan tetap tersedia di kilang maupun akomodasi pencampuran (blending).

"Jadi spesifikasi ini kita berikan masa transisi lah, pasti di atas 40% tetapi kelak lambat laun menuju 50%. Pertamina berjanji menghabiskan semua stok clear di 2 bulan. Terus ada perusahaan kan nan mem-blending biodiesel itu bukan hanya Pertamina," kata dia.

Sebelumnya, berasas info Kementerian ESDM, penerapan program B50 diproyeksikan bisa memberikan faedah ekonomi nan signifikan bagi negara melalui peningkatan nilai tambah minyak sawit mentah (CPO).

Dari sisi fiskal, kebijakan tersebut berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp 157,28 triliun pada tahun 2026, meningkat dari sasaran awal program B40 nan sebesar Rp 140 triliun.

"Pasokan tadi kan saya bilang kita sedang berbilang terus tapi cukup jika saya prediksi cukup FAME-nya cukup," tutur Eniya beberapa waktu lalu.

(wia)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya