Ilustrasi(Magnific)
ANJURAN untuk mengurangi waktu duduk alias tidak terlalu lama berdiam diri sudah menjadi saran kesehatan nan umum. Namun, sebuah studi pencitraan otak berukuran besar menunjukkan imbauan tersebut belum sepenuhnya lengkap. Jenis aktivitas nan dilakukan saat duduk rupanya memegang peranan sangat krusial bagi kesehatan otak.
Studi nan dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer's and Dementia ini melacak sebanyak 1.712 orang dewasa sejak usia paruh baya hingga memasuki usia 70-an. Penelitian ini menggunakan info dari Atherosclerosis Risk in Communities (ARIC), sebuah proyek jangka panjang mengenai kesehatan jantung dan otak di Amerika Serikat. Para peserta mulai berasosiasi pada usia rata-rata 53 tahun, dan pemindaian otak melalui Magnetic Resonance Imaging (MRI) dilakukan sekitar 23 tahun kemudian.
Hasilnya, orang-orang nan sangat sering menonton televisi saat usia paruh baya mengalami kondisi otak nan lebih jelek beberapa dasawarsa kemudian. Pemindaian MRI menunjukkan penurunan volume pada area otak nan berangkaian dengan memori, logika eksekutif, serta pemrosesan visual, seperti lobus frontal dan oksipital.
Selain penyusutan volume otak, pemindaian tersebut juga menemukan tanda-tanda kerusakan pada pembuluh darah mini di otak, nan dikenal sebagai white matter hyperintensities. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan peningkatan akibat penurunan kegunaan kognitif, penyakit demensia, hingga stroke.
Menariknya, akibat negatif ini tidak ditemukan pada orang nan banyak duduk lantaran tuntutan pekerjaan kantor. Duduk saat bekerja justru tidak menunjukkan hubungan dengan penurunan kondisi kesehatan otak sebagaimana nan dialami penonton TV kelas berat. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa jenis aktivitas nan dilakukan saat duduk memberikan pengaruh nan berbeda terhadap jaringan saraf.
"Selama bertahun-tahun kita berfokus pada seberapa lama orang duduk. Temuan kami menunjukkan bahwa kita juga kudu memperhatikan apa nan mereka lakukan saat sedang duduk," ujar David Raichlen, guru besar pengetahuan biologi dan antropologi di University of Southern California (USC) nan menjadi salah satu penulis senior studi tersebut.
Ketika info dianalisis berasas jenis kelamin, para peneliti menemukan bahwa sebagian besar perubahan pada struktur otak, baik akibat jelek dari menonton TV maupun pengaruh dari duduk di tempat kerja, lebih banyak terlihat pada pria.
Para peneliti menyarankan agar pedoman kesehatan masyarakat tidak hanya menganjurkan orang untuk mengurangi waktu duduk, tetapi juga mendorong masyarakat untuk memilih aktivitas nan lebih menstimulasi otak saat mengisi waktu senggang. (Earth/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·