Area hijau di gurun Sahara nan diabadikan NASA.(Doc Indulge Express)
GERUN Sahara nan membentang di Afrika Utara dikenal sebagai wilayah padang pasir terluas di bumi dengan lanskap bukit pasir nan gersang dengan suhu udara nan sangat panas. Namun, wilayah tersebut rupanya pernah menjadi lanskap hijau nan subur, dipenuhi hutan, padang rumput, sungai, hingga waduk nan dihuni beragam tanaman dan fauna.
Bukti-bukti nan dikumpulkan oleh para arkeolog dan paleontolog menunjukkan bahwa periode hijau terakhir di Sahara nan secara resmi dikenal sebagai Periode Lembap Afrika (African Humid Period) dimulai tak lama setelah berakhirnya Zaman Es Terakhir sekitar 11.700 hingga 14.500 tahun lampau dan memperkuat hingga sekitar 5.000 tahun lalu.
Jejak Ekosistem Purba dan Sungai Raksasa nan Terkubur
Lukisan purba di cadas batu serta temuan fosil tulang belulang kuda nil, gajah, jerapah, buaya, dan ikan membuktikan bahwa ekosistem air tawar di Sahara pernah sangat hidup dan menopang kehidupan organisasi manusia purba.
Salah satu bukti nan ditemukan melalui gambaran satelit radar adalah Sungai Tamarasset. Sungai purba ini dulunya mengalir dari Pegunungan Atlas dan Hoggar di Aljazair menuju Samudra Atlantik di Mauritania, nan sekarang terkubur di bawah hamparan pasir. Pada masa kejayaannya, debit dan ukuran sungai ini diperkirakan menjadikannya salah satu sistem sungai terbesar di dunia.
Perubahan Iklim dan Gerak Presesi Bumi
Para intelektual menemukan bahwa transformasi Sahara dari gurun menjadi area hijau bukanlah peristiwa acak, melainkan bagian dari siklus suasana alami nan berulang setiap kurun waktu tertentu, khususnya dalam rentang presesi sumbu Bumi nan berputar setiap 20.000 hingga 21.000 tahun sekali.
Perubahan kemiringan dan arah rotasi sumbu Bumi memicu peningkatan radiasi sinar mentari musim panas di bagian bumi utara. Pemanasan daratan Afrika Utara nan intensif ini memicu kejadian penyedotan udara presipitasi, melipatgandakan kekuatan Monsun Afrika Barat sehingga membawa curah hujan melimpah jauh ke wilayah utara nan sekarang menjadi gurun.
Peran Vegetasi dalam Mempertahankan Iklim Lembap
Siklus cuaca makin diperkuat oleh sistem umpan kembali vegetasi. Ketika tumbuhan mulai tumbuh, dedaunan dan tutupan hijau menyerap lebih banyak panas mentari daripada pasir nan memantulkannya.
Vegetasi juga membantu tanah mempertahankan kelembapan, mengurangi debu di atmosfer, serta memicu penguapan air dari waduk dan lahan basah nan kemudian menghasilkan lebih banyak hujan. Proses hubungan ini menjaga suasana Sahara tetap basah dan hijau selama ribuan tahun.
Bukti mengenai siklus ini ditemukan melalui penelitian sedimen di Laut Atlantik dan Mediterania. Analisis terhadap lapisan debu pasir dan sedimen lumpur sungai mencatat bahwa Sahara telah berganti antara fase gersang dan fase hijau setidaknya 230 kali dalam kurun 800.000 tahun terakhir. Bahkan, studi pengetahuan bumi dalam jurnal Nature Geoscience melacak jejak presesi astronomis nan memicu suasana basah dan kering di Sahara hingga kurun 11 juta tahun nan lalu.
Bisakah Sahara Kembali Hijau di Masa Depan?
Meski siklus perputaran orbital Bumi terus bersambung hingga hari ini, para intelektual menegaskan bahwa tanggal pasti kehadiran periode "Sahara Hijau" berikutnya tidak dapat diprediksi secara sederhana hanya dengan menghitung mundur siklus 20.000 tahunan.
Luasnya hamparan es di Kutub Utara, perubahan sirkulasi samudra, tingkat karbon dioksida di atmosfer, serta akibat perubahan suasana dunia nan dipicu oleh aktivitas manusia turut memengaruhi pergerakan angin monsun, sehingga kondisi Sahara di masa depan mungkin tidak bakal sepenuhnya meniru siklus alami masa lalu.
Sumber: Britannica, Times of India








English (US) ·
Indonesian (ID) ·