Ilustrasi(Dok Istimewa)
PADA 2026, tim pengajar AKPRIND University nan diketuai oleh Muhammad Sholeh, kembali melaksanakan aktivitas pengabdian kepada masyarakat di Desa Bendung, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program hibah Pemberdayaan Desa Binaan nan didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Kegiatan pengabdian ini bermaksud untuk meningkatkan kapabilitas mitra, khususnya golongan tani (Gapoktan) dan pelaku UMKM, melalui penerapan beragam Teknologi Tepat Guna (TTG) serta program training dan pendampingan nan berkelanjutan.
Menurut Sholeh, sejumlah TTG nan telah diterapkan meliputi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mendukung sistem pengairan pertanian, mesin perajang rumput untuk pakan ternak, mesin pengolah kotoran hewan (TTG Kohe) untuk menghasilkan pupuk organik, teknologi pengolahan cocopit dan cocopeat, serta beragam teknologi lainnya nan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Khusus penerapan PLTS, Energi nan dihasilkan oleh PLTS dimanfaatkan untuk mengangkat air dari sumur menuju tandon penampungan, kemudian digunakan dalam proses irigasi tanaman bawang melalui sistem sprinkler. Selain itu, sistem penyiraman telah terintegrasi dengan teknologi Internet of Things (IoT) sehingga proses pengairan dapat dilakukan secara otomatis.
“Penerapan sistem ini bisa meningkatkan efisiensi penggunaan air, mengurangi kebutuhan tenaga kerja untuk penyiraman, serta mendukung produktivitas pertanian nan lebih berkelanjutan,” tambah Sholeh.
Selain penerapan beragam Teknologi Tepat Guna (TTG), tim pengabdian AKPRIND University juga memberikan training dan pendampingan bagi personil Gapoktan maupun pelaku UMKM di Desa Bendung. Kegiatan training dirancang untuk meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia agar bisa memanfaatkan teknologi dan kesempatan upaya secara optimal. Materi nan diberikan meliputi pengelolaan usaha, pemasaran digital, pengembangan produk, hingga pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi.
Salah satu training nan mendapatkan perhatian besar dari peserta adalah training pembuatan konten digital untuk media sosial. Dalam training ini, peserta dibimbing untuk membikin konten dan video produk nan menarik, menyusun narasi promosi nan efektif, serta memahami strategi pemasaran melalui beragam platform media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, dan WA Business.
Menurut personil tim pengabdian, Bikorin, training pembuatan konten memberikan nilai tambah nan sangat krusial bagi para pelaku UMKM. Selama ini sebagian besar pelaku upaya tetap mengandalkan pemasaran konvensional dan jaringan pengguna nan terbatas. Melalui training ini, mereka memperoleh keahlian baru untuk mempromosikan produk secara lebih luas dan ahli di media sosial.
“Konten nan menarik dapat meningkatkan daya tarik produk dan menjangkau calon konsumen nan lebih banyak. Kami berambisi para pelaku UMKM tidak hanya bisa memproduksi peralatan nan berkualitas, tetapi juga bisa memasarkan produknya secara efektif melalui media digital,” ujar Bikorin.
Lebih lanjut, Bikorin menjelaskan bahwa kemampuanmembuat konten digital saat ini menjadi salah satu kompetensi krusial bagi pelaku usaha. Dengan memanfaatkan media sosial secara optimal, UMKM dapat membangun identitas merek, meningkatkan hubungan dengan pelanggan, serta memperluas akses pasar tanpa kudu mengeluarkan biaya promosi nan besar.
Melalui kombinasi penerapan TTG, pelatihan, dan pendampingan berkelanjutan, program pengabdian AKPRIND University di Desa Bendung diharapkan bisa meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat daya saing UMKM, serta mendorong kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·