Klon yak Tibet pertama lahir pada 10 Juli 2025 -- seekor anak sapi domestik berjulukan Namtso No. 1.(Xinhua)
PARA intelektual di Tiongkok sukses mengkloning dua ekor yak Tibet nan hidup di dataran tinggi, dalam sebuah terobosan medis dan sains nan bermaksud untuk menyelamatkan populasi hewan langka tersebut dari ancaman kepunahan.
Anak yak hasil kloning tersebut lahir di Wilayah Otonomi Tibet melalui kerjasama antara para peneliti dari China Agricultural University dan otoritas peternakan setempat. Proyek ini diluncurkan untuk mengatasi penurunan drastis kualitas genetik serta jumlah populasi yak ras original di wilayah pegunungan Himalaya akibat pembiakan sekerabat (inbreeding) dan perubahan lingkungan.
Pengkloningan ini menggunakan sel somatis nan diambil dari bagian telinga yak jantan unggul. Melalui teknologi transfer inti sel somatis (somatic cell nuclear transfer), materi genetik tersebut dimasukkan ke dalam sel telur nan telah dihilangkan intinya, sebelum akhirnya ditanamkan ke rahim induk pengganti (surrogate).
Dua anak yak nan lahir dilaporkan berada dalam kondisi sehat dengan berat dan tanda-tanda vital nan normal. Keberhasilan ini menandai pertama kalinya teknologi kloning sel somatis diterapkan secara sukses pada jenis yak di kediaman dataran tinggi Tibet nan bersuhu dan bertekanan udara ekstrem.
Yak merupakan hewan nan memegang peranan krusial bagi ekosistem dan perekonomian masyarakat lokal di Tibet. Selama berabad-abad, hewan ini menjadi tumpuan hidup penduduk setempat sebagai penyedia bahan pangan berupa daging dan susu, wol untuk pakaian, hingga perangkat transportasi utama di medan terjal.
Para peneliti menegaskan bahwa langkah pengkloningan ini bukan bermaksud untuk menggantikan pembiakan alami, melainkan sebagai sarana pelestarian persediaan genetik. Dengan mempertahankan materi genetik dari individu-individu unggul, keberagaman hayati yak ras original Tibet dapat terjaga dari akibat kemunduran kualitas genetik.
Ke depan, tim peneliti berencana mengintegrasikan perseorangan hasil kloning ini ke dalam program pembiakan lokal untuk memperkuat daya tahan populasi ternak warga. Terobosan ini diharapkan tidak hanya menyelamatkan keberadaan yak Tibet, tetapi juga membuka jalan bagi skema konservasi serupa untuk jenis langka lainnya nan terancam punah di area dataran tinggi. (CNN/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·