Trotoar beton di Jalan Raya Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat(MI/Kisar)
RATUSAN meter trotoar beton di Jalan Raya Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat seniliai Rp10 miliar amblas ke arah aliran Kali. Padahal baru dibangun setahun lalu.
Pengamatan Kamis (30/7/2026) di lokasi, sebagian badan trotoar beton ambruk ke sisi Kali Angsana, dan hanya ditutupi terpal biru serta dipasang garis pembatas.
Struktur nan runtuh juga tampak ditopang puluhan bambu oleh penduduk dan belum tampak adanya aktivitas perbaikan resmi oleh lembaga mengenai ialah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok.
"Kami (warga) kudu berkompetisi nyawa jika melintas dari trotoar amblas ini. Kerusakan ini tengah memaksa penduduk melangkah di badan jalan raya," kata Jait, 40, penduduk sekitar nan tinggalnya berjarak 40 meter dari area trotoar amblas.
Menurut Jait, kerusakan trotoar nan mencapai ratusan meter ini bermulai dari retakan kecil.
"Kerusakan struktur publik ditandai dengan retakan mini memanjang lampau amblas," ungkapnya.
Jait menduga kerusakan ratusan meter trotoar akibat material nan tidak sesuai standar spesifikasi sehingga memicu penurunan kegunaan akomodasi umum.
"Menurut saya material trotoarnya tidak sesuai spesifikasi sehingga permukaan nan retak dan berlubang, mempercepat pengikisan, dan ancaman keselamatan pejalan kaki," ucapnya.
Jait mengatakan kerusakan ratusan meter trotoar ini sangat tidak mungkin disebabkan oleh erosi air bawah tanah, saluran dan gorong-gorong keropos, alias beban berat berlebih.
"Sangat tidak mungkin lah akibat aspek erosi, cuaca alias paparan air hujan dan panas ekstrem. Justru menduga adanya penggunaan campuran semen alias paving block di bawah standar daya tahan beban," ucapnya.
Sementara, Alisa, nan juga penduduk setempat menduga ada korupsi dan kongkalikong pada proyek trotoar senilai Rp10 miliar antara dinas mengenai dengan kontraktor pelaksana.
"Saya menduga bahwa telah terjadi manipulasi arsip progres fisik, pengurangan spesifikasi bahan gedung sehingga membikin lemahnya pengawasan dari pihak dinas mengenai dan pemalsuan info laporan kemajuan," katanya.
Menurut Alisa, kerusakan ratusan meter trotoar beton bukan lantaran aspek cuaca alias paparan air hujan dan panas ekstrem.
"Trotoar amblas ini tengah memaksa pejalan kaki terpaksa turun ke badan jalan raya lantaran kondisi jalur nan berbahaya," ungkapnya.
Jait dan Alisa mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut kerusakan prasarana publik, termasuk jalan dan akomodasi pejalan kaki di Jalan Raya Sawangan sebesar Rp10 miliar tersebut.
"Ini kasus kudu diusut lantaran korupsi. Apabila terdapat indikasi penyimpangan, penggelembungan biaya (mark-up), alias kerugian finansial negara dalam pengadaan anggarannya pelakunya agar ditersangkakan," pungkasnya (KG)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·