Trump Bikin Perang Terus, Bisnis Senjata AS Laris Manis

44 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik nan terus melibatkan Amerika Serikat (AS) di era Presiden Donald Trump menjadi berkah bagi industri pertahanan. Di tengah meningkatnya kebutuhan amunisi akibat perang nan melibatkan Iran dan Ukraina, Lockheed Martin mengantongi perjanjian jumbo senilai hingga US$58,6 miliar alias sekitar Rp1.054,8 triliun (kurs Rp18.000/US$) untuk memproduksi rudal pencegat Patriot.

Melansir Reuters, Pentagon pada Rabu (29/7/2026) mengumumkan Angkatan Darat AS memberikan perjanjian tersebut kepada Lockheed Martin. Menurut Angkatan Darat AS, perjanjian itu mengubah kesepakatan awal berdurasi satu tahun senilai US$4,7 miliar alias sekitar Rp84,6 triliun menjadi perjanjian selama tujuh tahun nan mencakup pengadaan rudal Patriot pada tahun fiskal 2026 hingga 2032.

Kontrak jumbo itu muncul ketika stok persenjataan AS terus tertekan akibat besarnya pasokan senjata ke negara sekutu serta penggunaan amunisi dalam operasi militer Washington sendiri. Kondisi tersebut mendorong Pentagon mempercepat produksi rudal pertahanan udara dan senjata berpemandu presisi untuk mengisi kembali persediaan nan menipis.

Pemerintahan Trump juga terus menekan kontraktor pertahanan agar mempercepat produksi. Pada Januari lalu, Trump menandatangani perintah pelaksana untuk mengidentifikasi perusahaan nan dinilai berkinerja jelek dalam perjanjian pemerintah tetapi tetap membagikan untung kepada pemegang saham. Pentagon pun mendorong tercapainya kesepakatan produksi jangka panjang agar kapabilitas industri pertahanan dapat meningkat lebih cepat.

Di sisi lain, pelaku industri menyambut positif kepastian perjanjian tersebut. Namun, mereka mengingatkan bahwa Kongres AS tetap kudu mengesahkan pendanaan sebelum perusahaan dapat memperluas investasi pada akomodasi produksi maupun rantai pasok. Sementara itu, rincian agenda pengiriman beragam perjanjian amunisi Pentagon tetap terus dinegosiasikan.

Lockheed Martin menyatakan pendanaan baru ini bakal mempercepat sasaran perusahaan untuk melipatgandakan kapabilitas produksi rudal Patriot PAC-3 MSE pada akhir 2030. Perusahaan juga bakal menambah jumlah pekerja di akomodasi Camden, Arkansas, sekitar 50%, dari 1.200 menjadi sekitar 1.850 orang.

Selain itu, Lockheed telah menyiapkan investasi US$8 miliar (sekitar Rp144 triliun) hingga US$9 miliar (Rp162 triliun) sampai 2030 untuk memodernisasi lebih dari 20 akomodasi di AS, termasuk membangun pusat produksi amunisi baru di Alabama dan Arkansas. Perusahaan sebelumnya juga menargetkan produksi rudal Patriot PAC-3 meningkat menjadi 2.000 unit per tahun.

Besarnya shopping pertahanan AS sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap kesiapan rudal pertahanan udara. Centre for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan militer AS sekarang mempunyai kurang dari 1.000 rudal Patriot dan kurang dari 250 rudal THAAD nan siap digunakan. Kedua sistem tersebut telah dipakai secara intensif dalam beragam operasi di Timur Tengah.

Di tengah lonjakan shopping militer global, Inggris apalagi mulai mewacanakan publikasi kembali obligasi perang (war bond) untuk membantu membiayai peningkatan anggaran pertahanan.

Instrumen tersebut pernah digunakan London saat Perang Dunia I untuk menghimpun biaya masyarakat, meski dalam perjalanannya menjadi pelajaran berbobot lantaran inflasi dan perubahan kebijakan pemerintah membikin nilai investasi para pemegang obligasi tergerus selama puluhan tahun.

(tfa/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya