Trump dan Yordania Sebut Cegat Lima Rudal Iran yang Datang

1 jam yang lalu 2
Trump dan Yordania Sebut Cegat Lima Rudal Iran nan Datang Donald Trump.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran pada Rabu (29/7) waktu setempat, setelah pejabat AS mengonfirmasi bahwa Teheran meluncurkan serangan rudal balistik ke aset militer AS di area Timur Tengah. Meski serangan tersebut sukses dicegat, eskalasi ini menandai berakhirnya jarak permusuhan nan sempat diupayakan Washington.

"Kami bakal memukul mereka dengan sangat keras," ujar Trump kepada wartawan di Oval Office. "Mereka sudah meminta maaf, tetapi Anda tahu, kita kudu memberi mereka sedikit pelajaran."

Trump merinci bahwa Iran meluncurkan lima rudal balistik dengan kecepatan mencapai 8.600 mil per jam. Menurutnya, seluruh rudal tersebut sukses ditembak jatuh sebelum mengenai sasaran. Di sisi lain, pihak Yordania juga mengonfirmasi bahwa pertahanan udara mereka mencegat lima rudal Iran nan ditujukan ke pangkalan AS di wilayah tersebut.

Keterlibatan Arab Saudi dan Serangan Gabungan

Ketegangan ini memuncak setelah pasukan AS dan Arab Saudi meluncurkan serangan udara campuran semalam nan menargetkan golongan bersenjata support Iran di Irak Timur. Langkah ini dianggap sebagai titik kembali krusial lantaran menandai keterlibatan langsung Riyadh dalam bentrok terbuka antara Washington dan Teheran.

Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan serangan tersebut menyasar situs logistik dan senjata sebagai respons atas lebih dari 30 serangan pesawat tak berawak oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran dalam beberapa hari terakhir. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan tindakan tersebut diambil setelah milisi pro-Iran menargetkan akomodasi minyak kerajaan.

Mark Cancian, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), menilai peran Saudi sebagai langkah besar. "Mereka kehilangan kesabaran dan mengambil langkah nan selama ini mereka hindari, ialah menyerang langsung organisasi Arab lain," kata Cancian. Ia menambahkan perihal ini bisa menjadi sinyal bahwa Saudi bakal mengizinkan AS menggunakan pedoman militer mereka untuk operasi langsung terhadap Iran alias di Selat Hormuz.

Dampak Ekonomi dan Korban Jiwa

Reaksi pasar dunia terhadap eskalasi ini sangat negatif. Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 7 persen menjadi sekitar US$87 per barel, sementara indeks Dow Jones Industrial Average merosot lebih dari 800 poin pada perdagangan Rabu.

Konflik nan berjalan selama lima bulan ini telah menyantap korban jiwa nan signifikan:

  • 18 personil jasa Amerika Serikat tewas dan lebih dari 600 luka-luka sejak bentrok dimulai.
  • 4 tentara AS tewas pada bulan Juli ini saja, termasuk tiga orang dalam serangan rudal di Yordania pada 17 Juli.
  • 20 personil Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak dilaporkan tewas dalam serangan udara campuran AS-Saudi terbaru.

Peringatan Keamanan Operasional

Menyusul beredarnya video dan foto kerusakan pertempuran di media sosial, Laksamana Brad Cooper, kepala Centcom, mengeluarkan peringatan internal kepada lebih dari 50,000 tentara AS di Timur Tengah untuk menjaga keamanan operasional (OPSEC). Juru bicara Centcom, Kapten Tim Hawkins, menegaskan bahwa perlindungan personel adalah prioritas utama di tengah situasi nan tidak menentu ini.

Meskipun Trump sempat menyatakan perang dengan Iran berhujung pada Mei lampau setelah pengumuman gencatan senjata, realita di lapangan menunjukkan sebaliknya. Dengan adanya blokade Houthi di Laut Merah dan penutupan Selat Hormuz oleh Iran, prospek perdamaian melalui jalur diplomasi sekarang terancam kandas total. (The Washington Post/I-2)

Selengkapnya