Trump Mau Temui Kim Jong Un, Hubungan AS-Korsel di Ujung Tanduk?

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) bakal memangkas lama latihan militer campuran tahunan sekitar setengahnya. Langkah ini terjadi di tengah laporan Presiden AS Donald Trump kembali membuka kesempatan pertemuan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Militer Korea Selatan pada Rabu (19/8/2026) mengatakan latihan Ulchi Freedom Shield (UFS) tahun ini bakal berjalan pada 17-21 Agustus, lebih singkat dari agenda semula hingga 27 Agustus. Kepala Staf Gabungan Korea Selatan menyebut perubahan tersebut merupakan usulan dari pihak AS.

"Keputusan untuk menyesuaikan agenda latihan merupakan proposal AS," kata Kepala Staf Gabungan Korea Selatan dalam pernyataannya, seraya menambahkan bahwa sejumlah latihan lapangan campuran juga bakal dikurangi, seperti dikutip CNBC International.

Pemangkasan latihan tersebut muncul setelah Trump dilaporkan memerintahkan Menteri Perang AS Pete Hegseth untuk mengurangi secara "substansial" latihan militer bersama. Langkah itu diambil menjelang dimulainya latihan UFS pada Senin.

Pada saat nan sama, The Wall Street Journal melaporkan Trump mendorong para pembantunya untuk mengatur pertemuan langsung dengan Kim Jong Un, kemungkinan paling sigap musim gugur ini. Trump disebut mempertimbangkan pertemuan saat kunjungan ke Asia pada November, ketika dia diperkirakan menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen, China.

Trump dan Kim sebelumnya telah berjumpa tiga kali pada masa kedudukan pertama Trump, termasuk pertemuan berhistoris di Singapura pada 2018. Upaya terbaru ini dinilai sebagai langkah untuk kembali menghidupkan diplomasi langsung Washington-Pyongyang nan terhenti.

Sekutu sebelumnya merencanakan 14 program latihan lapangan campuran dalam rangkaian UFS, nan melibatkan sekitar 18.000 tentara Korea Selatan. Jennifer Kavanagh, senior fellow sekaligus kepala kajian militer di Defense Priorities, menilai pengurangan keterlibatan AS dapat mendorong Seoul memperkuat keahlian militernya sendiri.

"Sekutu bakal menjadi lebih berdikari seiring waktu, dan mereka bakal memerlukan Amerika Serikat lebih sedikit," ujar Kavanagh. Ia menilai peningkatan anggaran pertahanan serta kerja sama Korea Selatan dengan Jepang, Filipina dan Australia dapat semakin memperkuat kapabilitas pertahanan kawasan.

Menurut Kavanagh, bagi Washington, pengurangan jejak militer di Asia juga berpotensi memberikan untung lantaran beban pertahanan nan lebih mini dapat mengalihkan sumber daya ke prioritas domestik sekaligus mengurangi akibat bentrok besar, termasuk dengan China.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya