Trump Ngamuk Saat Nonton Piala Dunia, Putuskan Serang Iran Lagi

2 hari yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan naik pitam di tengah momentum gelaran Piala Dunia dan langsung memerintahkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran. Perintah penyerangan garang ini dikeluarkan oleh Trump guna melumpuhkan keahlian militer Iran sekaligus menghukum pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Mengutip laporan CNBC International, Minggu (19/07/2026), Trump menginstruksikan pasukannya untuk menggempur akomodasi militer Teheran setelah dia bersikap acuh tak acuh terhadap keputusan sepihak Iran nan menarik diri dari perjanjian tenteram darurat memorandum kesepahaman Islamabad.

Ketika dimintai keterangan oleh wartawan mengenai langkah Iran nan tidak lagi mematuhi perjanjian tenteram tersebut, Trump menunjukkan respons nan sangat keras.

"Saya sama sekali tidak peduli," tukas Trump saat ditanya oleh wartawan mengenai sikap Iran.

Ketegangan bersenjata nan dipicu oleh petunjuk langsung Trump ini berakibat fatal pada meningkatnya jumlah korban jiwa di pihak militer Washington. Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi bahwa seorang lagi anggotanya tewas dalam pertempuran terbaru di Irak akibat ledakan drone serang Iran.

Secara akumulatif, total korban tewas dari pihak militer AS sekarang telah melonjak menjadi 17 jiwa sejak bentrok bersenjata ini pecah pertama kali pada Februari lalu. Trump mengindikasikan bahwa kejadian ini menjadi sebuah pemicu serangan kembali ke Negeri Para Mullah.

"Sangat menyedihkan, ini adalah perihal nan sangat menyedihkan. Kita tidak suka memandang perihal itu terjadi. Itu demi berkhidmat kepada negara kita," tutur Trump menanggapi tewasnya personil militer AS di Yordania.

Meskipun korban di pihak AS terus bertambah dan eskalasi perang memasuki fase mematikan, Trump tetap bersikeras menyatakan bahwa operasi militer AS melangkah dengan sangat sukses.

Di sisi lain, eskalasi bentrok ini memicu lonjakan nilai minyak mentah bumi hingga 16% dalam sepekan terakhir akibat kekhawatiran kelumpuhan logistik di Selat Hormuz, di mana minyak mentah referensi Brent untuk pengiriman September melesat 4,6% ke level US$ 88,10 (Rp 1.585.800) per barel dan minyak mentah WTI AS naik 4,5% menjadi US$ 82,49 (Rp 1.484.820) per barel.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya