Trump 'Selingkuhi' Korsel Demi Kim Jong Un, Beri Pesan Menohok Ini

1 jam yang lalu 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan untuk mengurangi skala latihan militer gabungannya dengan Korea Selatan. Rencana nan awalnya ditujukan untuk menghalangi Korea Utara ini dipangkas meskipun para pejabat militer telah memperingatkan bahwa rezim Kim Jong Un saat ini sedang aktif mempelajari strategi medan perang baru dari bentrok Ukraina.

Mengutip The Guardian, Senin (17/08/2026), latihan di bawah sandi Ulchi Freedom Shield ini dimulai pada hari Senin dan sejatinya kan berjalan hingga 27 Agustus mendatang. Latihan besar-besaran ini merupakan satu dari dua operasi militer tahunan utama nan diadakan secara rutin oleh pihak Korea Selatan dan AS.

Latihan ini pada awalnya diperkirakan bakal melibatkan sekitar 18.000 pasukan Korea Selatan nan bersanding bahu-membahu dengan pasukan AS. Latihan ini juga dijadwalkan bakal dihadiri oleh personel dari 11 dari 18 negara personil Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNC) nan selama ini bekerja mengawasi gencatan senjata perang Korea tahun 1953.

Namun, pada Minggu malam, Trump secara terbuka mengaku tidak senang dengan tingginya partisipasi AS. Ia menyebut bahwa keputusan ini didasarkan pada hubungan diplomatiknya nan sangat baik dan berkawan dengan Kim Jong Un.

"Mengirimkan sinyal nan sama sekali tidak layak dan berbeda kepada negara yang, selama Donald J Trump menjadi presiden, tidak menakut-nakuti dan penuh hormat," ucapnya.

Trump mengeluhkan tingginya biaya nan kudu dikeluarkan untuk latihan tersebut, namun dia menyadari bahwa sudah terlalu lambat baginya untuk membatalkan aktivitas sepenuhnya. Sebagai gantinya, dia langsung memerintahkan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth untuk memangkas keterlibatan negaranya.

"Kurangi secara substansial," tegasnya.

Presiden AS tersebut juga menyinggung keengganan sekutunya dengan menyebut bahwa Korea Selatan sebelumnya telah menolak permintaan support untuk denuklirisasi Republik Islam Iran. Trump juga sempat membagikan foto lama dirinya nan sedang berpose berkawan dengan pemimpin Korea Utara tersebut di platform media sosial Truth Social.

"Sangat rukun," katanya.

Menanggapi gejolak ini, Gedung Biru kepresidenan Korea Selatan menyatakan bahwa mereka sedang meninjau postingan Trump secara mendalam. Mereka berambisi persahabatan antara pemimpin AS dan Korea Utara dapat mengarah pada perbincangan nan berarti guna memajukan perdamaian dan stabilitas di semenanjung Korea, sembari memastikan bahwa pihak sekutu bakal terus mengoordinasikan postur pertahanan militer gabungannya.

Unggahan kontroversial tersebut langsung memicu spekulasi luas bahwa Trump bakal memperbarui upayanya untuk mengadakan pertemuan tingkat tinggi lanjutan dengan Kim Jong Un. Pada masa kedudukan sebelumnya di 2018, Trump juga pernah membatalkan dan menyusutkan skala latihan Ulchi Freedom Guardian demi mengejar ambisi diplomasinya dengan Kim.

Wakil Presiden lembaga thinktank Sejong Institute di Seoul, Cheong Seong-chang, memprediksi Trump bisa melangkah lebih jauh jika sukses menemui Kim lagi. Ia menyebut kemungkinan terburuk di mana Trump berpotensi menangguhkan latihan sepenuhnya alias mengurangi jumlah pasukan AS secara sepihak tanpa berkonsultasi terlebih dulu dengan Korea Selatan.

Cheong menilai aliansi AS-Korsel saat ini memang tetap sangat penting, namun dia mendesak Seoul untuk mulai secara berjenjang mengurangi ketergantungan keamanannya pada Washington.

"Saya menyarankan agar Korsel bergerak mengamankan keahlian pencegahan nuklirnya sendiri," kata Cheong.

Di sisi lain, guru besar studi internasional di Ewha Womans University, Leif-Eric Easley, memperingatkan bahwa perampingan latihan militer justru bakal sangat merugikan. Ia menyebut manuver ini bakal memperlambat kesiapan Korea Selatan dalam menanggung tanggung jawab pertahanannya sendiri dan melemahkan pencegahan bentrok di Asia.

"Penghematan biaya dari perampingan latihan sangat marjinal, sementara faedah diplomatik untuk hubungan dengan Korea Utara diragukan," paparnya.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya