Trump Tutup Kantor Konsulat AS di RI, Ada Apa?

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) berencana menutup lima konsulat dan misi diplomatik di sejumlah negara, termasuk Konsulat AS di Medan, Indonesia. Kebijakan nan diambil pemerintahan Presiden Donald Trump ini memicu kritik lantaran dinilai berpotensi membuka ruang bagi China untuk memperluas pengaruh diplomatiknya di beragam kawasan.

Anggota senior Partai Demokrat di Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, Jeanne Shaheen, menilai keputusan tersebut justru menguntungkan Beijing. Ia menambahkan, biaya operasional misi-misi tersebut relatif mini dibandingkan anggaran Departemen Luar Negeri sehingga mempertanyakan faedah penutupan itu.

"China mempunyai kehadiran diplomatik di tiga dari lima letak tempat Departemen Luar Negeri bakal menutup kantornya, dan Beijing bakal memanfaatkan kekosongan baru tersebut untuk melemahkan kepentingan Amerika," ujar Shaheen, seperti dikutip Guardian, Kamis (6/8/2026).

Departemen Luar Negeri AS telah menyampaikan pemberitahuan kepada Kongres mengenai rencana penutupan misi di St. George's (Grenada), Nagoya (Jepang), Medan (Indonesia), Douala (Kamerun), dan Winnipeg (Kanada). Langkah tersebut merupakan bagian dari pertimbangan hubungan bilateral serta upaya efisiensi anggaran sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden pada Januari 2025.

Penutupan ini juga menjadi kelanjutan dari restrukturisasi besar nan dipimpin Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Tahun lalu, Departemen Luar Negeri memangkas lebih dari 1.300 pegawai, terdiri dari 246 diplomat pekerjaan dan 1.107 pegawai sipil.

Di sisi lain, American Foreign Service Association mencatat lebih dari separuh dari 195 posisi duta besar AS di beragam negara tetap belum terisi, termasuk di Jerman, Mesir, Arab Saudi, Pakistan, dan Kuba. Shaheen kembali menegaskan bahwa penarikan kehadiran diplomatik AS berisiko mengurangi pengaruh Washington di area strategis.

"Apakah sepadan untuk menarik diri dari tempat-tempat di mana China hadir?" katanya.

Rencana penutupan Konsulat AS di Winnipeg juga menuai kritik di Kanada. Mantan ahli politik konsulat tersebut, Brad Kirbyson, menilai penghematan anggaran tidak sebanding dengan hilangnya jaringan diplomatik di wilayah tengah Kanada.

"Langkah ini mungkin menghemat biaya, tetapi akibat keseluruhannya adalah hilangnya hubungan dengan wilayah Kanada nan luas akibat tidak adanya kehadiran bentuk di sana," ujarnya.

Sementara itu, ahli bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan pihaknya tetap menjalankan proses pemberitahuan kepada Kongres sesuai prosedur.

"Kami berfokus untuk memastikan kehadiran diplomatik kami efisien, efektif, dan memberikan hasil nyata bagi rakyat Amerika," katanya, seraya menegaskan belum ada info tambahan nan dapat disampaikan.

Rencana penutupan lima misi tersebut disebut tetap menjadi bagian awal dari agenda efisiensi pemerintahan Trump. Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih apalagi mengusulkan penutupan hingga 30 misi diplomatik di luar negeri.

Usulan itu ditentang Partai Demokrat dan sejumlah master kebijakan luar negeri lantaran dinilai dapat melemahkan pengaruh dunia AS, terutama setelah pembubaran lembaga support luar negeri USAID nan kemudian dilebur ke dalam Departemen Luar Negeri.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya