Jakarta, CNBC Indonesia - Siang 17 Juli 2006 menjadi hari nan tak pernah dilupakan bagi Neni Nurhayati. Saat mengikuti aktivitas training di Pangandaran, Jawa Barat, dia memandang ombak berwarna hitam dari kejauhan nan terus meninggi sekitar satu jam setelah gempa mengguncang wilayah tersebut.
Awalnya, dia mengira itu hanya ombak biasa. Namun, kepanikan pecah ketika petugas pantai meniup peluit panjang dan berteriak meminta semua orang segera menyelamatkan diri
"Pas ada peluit itu lari, katanya tsunami. Teman saya malah tak bersuara gemetaran. Saya tarik agar lari," kenangnya, dikutip dari kanal YouTube BPBD Jawa Barat.
Neni berupaya menjauh dari bibir pantai. Namun, gelombang datang lebih cepat. Air laut menghantam dari belakang hingga mengangkat tubuhnya ke anjungan lantai tiga sebuah hotel. Beruntung, pintu anjungan tidak terkunci sehingga dia dapat masuk dan menyelamatkan diri.
Beberapa jam kemudian, saat air mulai surut dan dia turun dari tempat perlindungannya, pemandangan memilukan terjadi di hadapannya.
"Makin surut, sudah banyak mayit di mana-mana," ungkap Neni.
Pengalaman Neni menjadi salah satu kesaksian tentang dahsyatnya gempa dan tsunami Pangandaran nan kemudian tercatat sebagai salah satu tsunami paling mematikan dalam sejarah Indonesia setelah tsunami Aceh 2004.
Peristiwa itu bermulai pada Senin, 17 Juli 2006 alias tepat 20 tahun lalu. Pukul 15.19 WIB, gempa berkekuatan M7,7 mengguncang dasar Samudra Hindia di selatan Pulau Jawa. Namun, berbeda dengan gempa besar pada umumnya, getaran nan dirasakan masyarakat di daratan justru relatif lemah.
Akibatnya, banyak penduduk dan visitor tidak menyadari gempa tersebut berpotensi memicu tsunami. Mereka tetap berada di sekitar pantai hingga gelombang raksasa datang menerjang.
Faktor Pemicu Tsunami
Menurut seismolog BMKG, Pepen Supendi, gempa Pangandaran merupakan jenis tsunami earthquake, ialah gempa nan lebih efektif membangkitkan tsunami dibandingkan menghasilkan guncangan kuat di daratan.
Menurut Pepen, perihal itu terjadi lantaran proses patahan (rupture) berjalan sangat lambat. Kondisi tersebut membikin daya gempa lebih banyak dipancarkan pada gelombang rendah sehingga getarannya tidak terasa terlalu kuat oleh manusia.
"Karena rupture-nya sangat lambat sehingga dia meradiasikan daya pada gelombang rendah nan sangat dominan, sehingga guncangannya tidak terlalu signifikan," kata Pepen dalam aktivitas A 20 Years Commemoration of the 2006 Pangandaran Tsunami ditayangkan kanal Youtube InfoBMKG, Kamis (16/7/2026).
Ia menyebut intensitas guncangan di Pangandaran saat itu hanya sekitar III-IV MMI. Guncangannya memang cukup untuk dirasakan masyarakat, tetapi belum sampai memicu kepanikan massal nan mendorong orang segera mengungsi. Sebagai perbandingan, gempa Aceh 2004 mencapai skala IX MMI.
Padahal, di kembali guncangan nan lemah itu, tersimpan ancaman jauh lebih besar. Pepen menjelaskan sumber gempa berada sangat dekat dengan palung (trench) di area subduksi megathrust selatan Jawa. Kedekatan inilah nan menyebabkan deformasi dasar laut bisa mengangkat massa air dalam jumlah besar dan memicu tsunami.
"Kenapa gempa Pangandaran menghasilkan tsunami nan signifikan? Karena dia sangat dekat sekali dengan trench sehingga menghasilkan tsunami nan sangat signifikan," ujarnya.
Selain deformasi dasar laut akibat gempa, Pepen juga mengungkap adanya kemungkinan longsoran bawah laut lokal nan memperbesar tinggi gelombang di sejumlah lokasi. Salah satu nan paling ekstrem terjadi di area Nusakambangan dengan tinggi tsunami diperkirakan mencapai sekitar 21 meter, sedangkan di wilayah lain berkisar 5-10 meter.
Tak heran, Pepen mengungkap kejadian 20 tahun lampau ini sebagai tsunami terbesar di Jawa.
"Ini tsunami terbesar di Jawa setelah gempa dan tsunami Banyuwangi 1994, di mana sepanjang 250 kilometer area pantai terdampak, terutama Pangandaran hingga pantai selatan Jawa Tengah dan Yogyakarta," ujar Pepen.
Bencana tersebut menewaskan lebih dari 600 orang, melukai ribuan lainnya, serta menyebabkan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Tragedi ini menjadi salah satu musibah paling mematikan di Indonesia sekaligus titik kembali penguatan mitigasi tsunami.
Tragedi Tsunami 2006 di Pangandaran Jawa Barat. (Istimewa) Foto: (Istimewa)
(mfa/mfa)
Addsource on Google

4 hari yang lalu
15







English (US) ·
Indonesian (ID) ·