UEFA Disebut Bakal Bahas Rencana Boikot FIFA

14 jam yang lalu 5
UEFA Disebut Bakal Bahas Rencana Boikot FIFA Pengunjung memotret 14 EUFA football Champions League trofi nan dimenangkan Real Madrid(COEX / AFP)

POLEMIK rencana FIFA melepas sebagian kepemilikan upaya Piala Dunia dan turnamen-turnamen utamanya terus memanas. UEFA apalagi bakal menggelar rapat darurat pekan ini untuk membahas langkah lanjutan. Menurut laporan BBC, ada kemungkinan UEFA bakal membahas boikot terhadap kejuaraan nan diselenggarakan FIFA.

Pertemuan darurat UEFA tersebut bakal digelqr secara virtual diikuti 55 asosiasi personil sebagai respons atas proposal FIFA membentuk anak perusahaan komersial baru nan bakal mengelola beragam arena bergengsi, termasuk Piala Dunia. Dalam skema itu, penanammodal eksternal bakal diizinkan membeli saham minoritas pada entitas baru tersebut.

Rencana tersebut memicu kekhawatiran soal pengaruh penanammodal swasta terhadap kejuaraan sepak bola internasional bakal semakin besar. FIFA membantah dugaan itu dan menegaskan seluruh keputusan mengenai regulasi, almanak pertandingan, hingga penyelenggaraan turnamen tetap berada di bawah kendali organisasi.

Meski demikian, penolakan terus bermunculan. UEFA apalagi lebih dulu mengeluarkan pernyataan keras sebelum FIFA merilis proposal resminya pada Selasa (28/7) waktu setempat. Federasi sepak bola Eropa menilai pendapat tersebut telah melampaui pemisah nan semestinya.

Dalam laporan nan dilansir dari BBC, dengan besarnya penolakan dari beragam federasi Eropa, opsi boikot diperkirakan bakal menjadi salah satu topik nan dibahas dalam rapat darurat tersebut.

Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) juga mengaku tidak pernah diajak berkonsultasi sebelum FIFA mengumumkan rencana upaya tersebut. Meski UEFA hanya mewakili 55 dari total 211 personil FIFA, federasi itu menaungi sebagian besar negara elite sepak bola dunia. Pada Piala Dunia musim panas ini, enam dari delapan tim perempat final berasal dari Eropa, termasuk juara Spanyol. Dominasi serupa juga terlihat pada jenis 2018 dan 2022.

Kondisi itu membikin UEFA sadar mengenai nilai komersial turnamen FIFA bakal menurun andaikan negara-negara Eropa memutuskan tidak ikut ambil bagian.

FIFA sendiri berdasar pembentukan entitas komersial baru diperlukan untuk meningkatkan pendanaan pengembangan sepak bola global.
Badan sepak bola bumi itu menargetkan biaya pengembangan mencapai US$10 miliar serta menawarkan akses modal hingga US$20 juta kepada masing-masing dari 211 asosiasi anggotanya.

Namun, sejumlah pihak menilai langkah tersebut berpotensi mendorong FIFA memperbesar skala turnamen demi mengejar untung finansial. Kekhawatiran mencakup kemungkinan Piala Dunia putra, putri, hingga Piala Dunia Antarklub digelar lebih sering alias diikuti lebih banyak peserta.

Perubahan tersebut dinilai bakal semakin membebani almanak sepak bola internasional nan sudah padat akibat bertambahnya jumlah pertandingan di level klub.

Hubungan FIFA dan UEFA memang terus memanas dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, UEFA menolak keras wacana penyelenggaraan Piala Dunia dua tahunan nan pernah diusulkan Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA Arsene Wenger.

Presiden UEFA  Aleksander Ceferin apalagi memilih tidak datang di final Piala Dunia tahun ini sebagai corak protes terhadap sejumlah keputusan kontroversial FIFA, termasuk penangguhan balasan penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun sehingga tetap bisa tampil pada babak 16 besar.

Gelombang kritik juga datang dari Presiden La Liga Javier Tebas. Tebas secara terbuka meminta Presiden FIFA Gianni Infantino mengakhiri masa kepemimpinannya lantaran dinilai telah membawa sepak bola ke arah nan keliru.

Tebas juga menyoroti sejumlah kebijakan FIFA, mulai dari jarak minum saat pertandingan, lama turun minum final Piala Dunia, penangguhan hukuman Balogun, hingga kemungkinan memperluas Piala Dunia menjadi 64 peserta. Menurutnya, sistem pemilihan presiden FIFA saat ini sudah rusak dari akarnya.

"Menurut saya, ya. Masa jabatannya (seharusnya) sudah selesai. Tetapi tidak ada kandidat penantang lantaran semua orang tahu mereka bakal kalah. Dia semestinya tidak bertahan, tetapi dengan kondisi saat ini dia tidak bakal pergi," kata Tebas. (H-4)

Selengkapnya