ARTICLE AD BOX
loading...
(Ki-Ka) CEO SMESCO Indonesia Doddy A Matondang, pengajar tetap Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi dan FISIP UPH Johanes Herlijanto, dan Amore Minayora dari University of the West of England (UWE) di Jakarta. Foto: Ist
JAKARTA - Produk murah asal RRC (China) dan dampaknya bagi produsen Indonesia dan para pelaku UMKM dalam negeri tetap menjadi topik nan mengundang antusiasme masyarakat negeri kita. Khususnya sejak bumi berangsur pulih dari pandemi Covid-19, pasar Indonesia dibanjiri produk-produk dengan nilai murah dari RRC nan bisa langsung masuk pada rantai terakhir dalam jalur perdagangan ialah pembeli eceran.
Hal ini menyebabkan kalangan UMKM di Indonesia sempat terpukul. Keluhan pelaku UMKM akibat masuknya produk dengan nilai murah dari China itu mengemuka di tahun 2023 lampau ketika beragam media memberitakan sungguh sepinya pusat perbelanjaan Tanah Abang.
Baca juga: Pembayaran QRIS Bisa Dipakai di China, Peluang Baru bagi UMKM
Wacana publik nan beredar saat itu menganggap kehadiran platform perdagangan elektronik asal China TikTok Shop sebagai penyebab turunnya omzet para pedagang mini dan menengah di pusat-pusat perbelanjaan tradisional.
Platform online itu dianggap menjadi wahana bagi masuknya beragam produk murah asal China ke Indonesia, sehingga produk tersebut langsung ditemukan oleh para pembeli tanpa melalui pedagang-pedagang perantara di Tanah Air.
Pemerhati China sekaligus pengajar tetap Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Johanes Herlijanto menilai meskipun dugaan bahwa barang-barang asal China nan dijual di TikTok melakukan praktik predatory pricing sangat popular khususnya dalam 3 tahun terakhir, dugaan itu tetap berupa wacana dan belum bisa dibuktikan secara hukum.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·