Update AS-Iran Saling Rudal: Serangan Meluas-Selat Hormuz Tutup Total

2 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Timur Tengah tetap terjadi. Sebelumnya eskalasi terjadi sejak 7 Juli lalu, saat Presiden AS Donald Trump tiba-tiba membatalkan gencatan senjata, membikin kedua negara terlibat dalam saling serang, nan berakibat pada pangkalan militer Amerika di negara-negara Teluk.

Dalam pembaruan Minggu, mengutip Reuters Senin (13/7/2026), pasukan Amerika Serikat (AS) dan Iran terlibat dalam tindakan saling serang menggunakan rudal berat dan pesawat nirawak (drone) secara masif. Gelombang gempuran kali ini cukup besar dalam perihal kecepatan dengan jangkauan nan lebih masif dari bentrok sebelumnya.

Dilaporkan gimana serangan jawaban Iran meluas hingga Qatar, negara mediator nan tidak pernah mengalami serangan sejak April lalu. Selain itu, Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan sistem pertahanan udara mereka aktif demi mencegat proyektil dari Iran.

Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) AS, Tim Hawkins, menyatakan kepada CNN International, bahwa pesawat tempur AS sukses menembak jatuh rudal jelajah dan drone kamikaze Iran. Sementara itu, media lokal Iran melaporkan rentetan ledakan besar terjadi di sekitar kota pelabuhan Sirik dan Bandar Abbas, nan merupakan markas utama dari beragam akomodasi militer milik Iran, berbareng Pulau Qeshm

Sebelumnya Sabtu, CENTCOM mengumumkan pasukannya telah sukses menghantam 140 sasaran militer milik Iran. Secara total, ada 300 sasaran militer di wilayah Iran nan digempur selama tiga malam berturut-turut pada pekan ini.

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan menghancurkan pusat komando militer di Yordania. Mereka juga menyerang situs radar di Kuwait serta platform pengisian bahan bakar kapal induk AS di Oman.

Di tengah situasi panas saling serang ini, Presiden AS Donald Trump memberikan konfirmasi langsung mengenai keterlibatan militer negaranya. Dalam wawancara telepon singkat dengan Reuters pada hari Minggu sore, Trump menegaskan tindakan keras AS terhadap Iran.

"Kita sedang menghajar mereka," tegas Trump.

Di sisi lain, negosiator top Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyampaikan pesan nan sangat tegas melalui akun resminya di platform X pada hari Minggu. Pesan tersebut menegaskan posisi tegas Iran nan tidak bakal lagi berdiskusi dengan tekanan sepihak.

"Era kesepakatan sepihak telah berakhir. Kami sudah katakan kepada Anda: tepati janji Anda alias tanggung akibatnya. Reality is knocking," tandas Qalibaf.

Perang sebenarnya diluncurkan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari. Ledakan di Teheran kala itu menewaskan mendiang Ayatollah Ali Khamenei.

Selat Hormuz Tutup Total

Saat ini, Iran kembali menutup Selat Hormuz. Jalur diklaim ditutup total sejak hari Sabtu setelah tembakan peringatan mengenai kapal ilegal.

Pada hari Minggu, militer Iran kembali mengumumkan telah sukses melumpuhkan kapal komersial kedua. Sebelum perang pecah, Selat Hormuz mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) bumi sebelum perang pecah.

Otoritas Selat Khas Persia menyatakan perlintasan kapal melalui Selat Hormuz saat ini sama sekali tidak memungkinkan. Hal itu diklaim akibat adanya pergerakan terlarangan dari pasukan militer Amerika di area tersebut.

Pihak AS sendiri membantah klaim tersebut. AS menegaskan pasukan militernya telah diposisikan secara strategis untuk mengamankan kebebasan navigasi.

"Iran tidak mengendalikan selat tersebut. Lalu lintas pelayaran tetap mengalir," ujar pemerintah AS

Di sisi lain, Pusat Informasi Maritim Gabungan menegaskan rute selatan di dekat Oman tetap tersedia untuk lampau lintas pelayaran. Panduan keselamatan tetap dikeluarkan meski tingkat ancaman keamanan di wilayah tersebut sangat parah.

Akibat meluasnya bentrok pasca-serangan militer, nilai minyak mentah bumi langsung melonjak tajam pada Senin ini. Ketegangan baru ini dinilai menakut-nakuti stabilitas pengiriman daya internasional di Selat Hormuz.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent melonjak 3,51% ke level US$78,68 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ikut naik 3,47% ke US$73,89 per barel.

Korban Sipil

Dampak dari eskalasi serangan udara ini pun mulai menyantap korban dari penduduk sipil internasional. Pemerintah India melaporkan salah satu penduduk negaranya lenyap setelah serangan terhadap kapal kontainer GFS Galaxy.

Otoritas Oman menyatakan sukses menyelamatkan 23 personil kru kapal lainnya dalam kejadian itu. Pemerintah Qatar langsung mengeluarkan maklumat darurat nan menyarankan seluruh jenis kapal untuk menghentikan aktivitas pelayaran.

Pemerintah Qatar melaporkan bahwa tiga orang penduduk sipil, termasuk seorang anak-anak, terluka akibat serpihan rudal. Otoritas setempat menegaskan bahwa Iran bertanggung jawab penuh secara norma atas akibat serangan tersebut.

Kerajaan Bahrain juga melaporkan bahwa pasukan militernya sukses mencegat beberapa serangan udara dari Iran. Sementara Yordania melaporkan hantaman rudal di wilayahnya, dan Oman menjadi sasaran serangan drone kamikaze.

Angkatan Darat Kuwait mengonfirmasi serangan pada platform pengeboran minyak lepas pantai melukai seorang pekerja. Pemerintah Oman memanggil Duta Besar Iran untuk menyampaikan protes diplomatik keras atas serangan drone di dua wilayahnya.

Kedutaan Besar AS di Oman mengeluarkan peringatan darurat bagi warganya di Duqm dan Musandam. Mereka diminta segera mencari tempat berlindung dan tetap tinggal di dalam ruangan demi keselamatan.

(tps/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya