Update Korban Gempa Venezuela: 1.430 Orang Tewas-68.900 Masih Hilang

1 jam yang lalu 3
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Jumlah korban tewas akibat gempa bumi kembar berkekuatan 7,2 dan 7,5 skala richter nan mengguncang Venezuela melonjak tajam menjadi 1.430 jiwa. Otoritas parlemen nasional melaporkan bahwa musibah alam luar biasa tersebut juga melukai sedikitnya 3.200 orang dan menyebabkan 3.100 penduduk kehilangan tempat tinggal serta 68.900 orang dilaporkan lenyap oleh family mereka.

Mengutip laporan Guardian, Senin (29/06/2026), proses pencarian korban selamat di bawah reruntuhan gedung nan rata dengan tanah terus melangkah dalam situasi kritis. Petugas penyelamat dibantu penduduk lokal di wilayah terdampak paling parah, La Guaira dan kota pesisir Caraballeda, terpaksa menggali puing gedung menggunakan sekop hingga tangan kosong demi mengevakuasi korban, termasuk pengamanan dramatis seorang bocah laki-laki berumur 11 tahun nan ditemukan dalam kondisi hidup.

"Beberapa menit nan lampau seorang anak laki-laki berumur 11 tahun diselamatkan hidup-hidup di Caraballeda. Saat ini, setiap nyawa adalah sumber angan bagi Venezuela," ungkap Presiden Interim Delcy Rodriguez melalui akun media sosial resminya pada hari Sabtu.

Dampak kehancuran prasarana akibat gempa beruntun dalam hitungan menit pada rabu (24/06/2026) malam itu diperkirakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memicu kerugian hingga US$ 6,7 miliar (Rp 119,5 triliun) alias setara 6% dari produk domestik bruto (PDB) Venezuela. Guna mengamankan situasi, pemerintah mengerahkan 14.000 personel militer dan polisi untuk beroperasi serta memblokir akses masuk di area bencana.

Bantuan internasional dari Meksiko, AS, Brasil, El Salvador, Prancis, Belanda, Turki, dan Inggris telah mendarat di letak untuk memperkuat pencarian, namun hambatan logistik membayangi setelah Bandara Internasional Simon Bolivar rusak parah. Tim penyelamat ahli Inggris dari badan kebaikan Serve On apalagi tertahan di Bandara Madrid selama lebih dari 24 hari akibat pembatalan penerbangan sipil.

"Hal-hal seperti ini selalu kritis terhadap waktu. Kami adalah tim ringan dan dapat bergerak cepat. Semakin sigap Anda tiba di sana, semakin besar kesempatan Anda untuk menyelamatkan nyawa," kata pemimpin tim Inggris, Vernon Young.

Sementara itu, pihak Departemen Luar Negeri AS melalui pejabatnya, Jeremy Lewin, menyatakan militer AS siap membantu koordinasi penerbangan logistik, rumah sakit bergerak, serta mengerahkan kapal angkut Angkatan Laut AS di lepas pantai untuk menampung korban luka. Berdasarkan info evakuasi, sejumlah penduduk negara asing dikonfirmasi ikut tewas dalam musibah ini, meliputi 15 penduduk Portugal, 7 penduduk China, 5 penduduk Spanyol, 2 penduduk Brasil, dan satu penduduk dobel Italia-Venezuela.

"Orang-orang terjebak di bawah reruntuhan, dan prioritasnya adalah membawa tim pencari dan penyelamat serta para ahli medis dan lainnya kepada mereka secepat mungkin untuk menyelamatkan nyawa," tegas Lewin nan menyebut situasi ini sebagai pacuan melawan waktu.

Ruang Jenazah di Caracas Kewalahan

Tekanan berat akibat lonjakan korban jiwa sekarang bergeser ke akomodasi forensik dan rumah duka di ibu kota Caracas. Jenazah para korban terus berdatangan tanpa henti menggunakan sepeda motor, mobil pribadi, hingga bak terbuka truk pikap lantaran bilik jenazah di pusat musibah La Guaira telah runtuh total.

Fasilitas bilik jenazah Bello Monte di Caracas sekarang dilaporkan kewalahan dan dipadati oleh ratusan kerabat nan menangis sembari menunggu giliran mengidentifikasi personil family mereka melalui foto. Salah satu warga, Marjorie Cedeño, kudu kehilangan ibu, ayah, dan saudaranya sekaligus setelah apartemen empat lantai mereka runtuh total di area elite Los Palos Grandes.

"Itu sangat mengerikan di dalam sana. Anda tidak bisa membayangkan sungguh kewalahannya tempat itu... Ini adalah sesuatu nan tidak Anda harapkan terjadi pada siapa pun. Ini adalah tragedi nan tak terayangkan," keluh Cedeño saat mengurus jenazah saudaranya.

Kisah memilukan juga menimpa seorang penduduk La Guaira, María Elena Moreno, nan sempat sukses dievakuasi hidup-hidup dari puing apartemen 10 lantai miliknya pada Kamis awal hari. Namun, kepanikan massal akibat rumor tsunami tiruan nan menyebar luas di media sosial membikin penanganan medisnya terlambat di luar ruangan.

"Ketika mereka akhirnya memindahkannya ke rumah sakit, dia tiba dalam keadaan meninggal," tutur kerabat korban, Belkis Cedeño.

Merespons krisis ruang jenazah tersebut, mantan Presiden Asosiasi Rumah Duka Nasional Venezuela, Edgar Hernández, mengonfirmasi bahwa para pengusaha pemakaman di seluruh negeri telah menyumbangkan lebih dari 200 peti meninggal dan kantong mayat. Sejumlah sukarelawan mahasiswa ilmu jiwa juga dikerahkan di sekitar akomodasi Bello Monte untuk memberikan konseling emosional bagi family nan berduka.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya