Usai Solar dari Sawit B50, Kini Prabowo Mau Gencarkan Bensin dari Tebu

1 hari yang lalu 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah bakal mempercepat pengembangan bahan bakar berbasis bioetanol sebagai langkah lanjutan, terutama setelah Indonesia sukses menerapkan mandatori Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar dengan campuran biodiesel berbasis minyak sawit sebesar 50% (B50).

Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia dapat mengejar India dan Brasil dalam pemanfaatan etanol sebagai campuran bensin. Hal tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia berbareng TNI di Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).

Adapun, sumber bahan baku bioetanol ini bisa berasal dari tetes tebu (molase), sorgum, singkong, aren, jagung dan lainnya.

"Kita sukses menjadi negara pertama di bumi nan menghasilkan B50. Sekarang kita hasilkan Solar dari kelapa sawit, jadi dari mulai Juli ini kita tidak impor Solar lagi dari luar negeri," kata Prabowo pada saat aktivitas Panen Raya tersebut.

Setelah sukses dengan B50, Prabowo sekarang mau mempercepat pengembangan bioetanol untuk bensin. Ia mengatakan Indonesia telah mempunyai keahlian menuju penerapan E10 alias bensin dengan campuran 10% etanol, apalagi berpotensi langsung menuju E20 alias campuran bioetanol pada bensin sebesar 20%. Artinya, setiap 1 liter bensin mengandung 20% bioetanol.

Prabowo kemudian membandingkan perkembangan penggunaan bioetanol di sejumlah negara. Menurutnya, India telah menerapkan E20, sementara Brasil apalagi telah menggunakan E100 alias bahan bakar berbasis etanol murni.

"India sudah E20, India sudah E20, Brasil sudah E100. Masa Indonesia gak bisa, Indonesia bisa kan? bisa ? bisa," katanya.

Sementara itu, CEO Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) John Anis menegaskan pihaknya siap mendukung sasaran pemerintah mempercepat pengembangan bioetanol.

"Jadi mungkin Bapak bertanya kenapa Pertamina ada di sini Pak, tapi Bapak lihat bahwa kami mau berkontribusi di bioenergi Pak. Jadi kami juga mau terima kasih Pak nan B50, selamat, kami juga punya cita-cita dan semangat nan sama untuk E20 Pak," kata John saat mendampingi Prabowo.

Ia mengungkapkan saat ini Indonesia baru menerapkan E5 secara terbatas di sekitar 170 SPBU Pertamina nan berada di Jawa Timur dan Jakarta. Sementara di India implementasinya sudah mencapai E20.

"Jadi kita nggak mau kalah Pak, kita kudu kejar mereka. Kita baru E5 Pak. Jadi ini E5 di 170 outlet kami di Jawa Timur dan di Jakarta," katanya.

John menjelaskan Pertamina juga tengah mengembangkan bioetanol dengan beragam jenis bahan baku tidak hanya tebu, namun juga aren, singkong, jagung, hingga sorgum.

Menurut John, untuk memenuhi kebutuhan nasional, Indonesia memerlukan sekitar 20 hingga 30 pabrik bioetanol baru dalam dua tahun ke depan. Adapun, pembangunan pabrik di beragam wilayah dinilai bakal meningkatkan kesejahteraan petani.

"Jadi impor daripada uangnya ke luar Pak, kasih petani Pak," tegas John saat merespons pertanyaan Prabowo mengenai akibat kebijakan tersebut terhadap pengurangan impor.

Untuk merealisasikan sasaran tersebut, Pertamina menekankan pentingnya izin mandatori serta kepastian nilai bahan baku. Hal itu diperlukan agar ekosistem bioetanol di Indonesia dapat segera berjalan.

(wia)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya