ARTICLE AD BOX
Wamendikdasmen Fajar saat berada di SMA Labschool Kebayoran, Jakarta, Senin (13/7).(Dok Kemendikdasmen)
WAKIL Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah tidak boleh hanya berakhir pada semboyan bebas perpeloncoan dan kekerasan. Menurutnya, MPLS kudu beralih bentuk menjadi ruang strategis untuk mengenali potensi serta menumbuhkan mimpi para siswa baru.
"MPLS bukan sekadar penyambutan. MPLS Ramah kudu menumbuhkan mimpi, kepercayaan diri, dan semangat belajar. Setiap anak kudu mulai membayangkan kelak bakal menjadi apa dan faedah apa nan dapat diberikan kepada masyarakat," ujar Fajar saat memberikan motivasi kepada siswa baru di SMA Labschool Kebayoran, Jakarta, Senin (13/7).
Belajar dari Kegagalan
Di hadapan para siswa, Fajar membagikan kisah inspiratif mengenai perjalanan pendidikannya sebagai anak seorang pembimbing dari family sederhana di Sukabumi. Pada 1995, dia merantau ke Madrasah Aliyah Program Khusus Darussalam, Ciamis, demi mengejar mimpi masuk perguruan tinggi terbaik alias melanjutkan studi ke Timur Tengah.
Namun, krisis dan keterbatasan biaya pada 1998 sempat mematahkan rencana tersebut. Ia kudu berbaikan dengan realita dan melanjutkan studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta.
"Saya tentu kecewa, tetapi jalan hidup penuh kejutan. Kegagalan melalui satu jalan bukanlah akhir dari cita-cita. Jangan patah arah dan jangan berputus asa. Jalan menuju mimpi tidak selalu seindah nan dibayangkan," kenangnya, merujuk pada amanah nan sekarang dia emban dari Presiden Prabowo Subianto.
Kepemimpinan dan Empati di Era AI
Selain motivasi personal, Wamendikdasmen membujuk siswa baru untuk melatih jiwa kepemimpinan sejak dini. Ia menekankan bahwa pemimpin sejati adalah mereka nan bisa menjadi teladan dan menggerakkan perubahan positif bagi lingkungan sekitar.
Menghadapi pesatnya perkembangan kepintaran artifisial (AI), Fajar mengingatkan bahwa kepintaran akademik saja tidak lagi cukup. Keunggulan manusia di masa depan bakal sangat berjuntai pada soft skills.
"Keunggulan manusia terletak pada empati, keahlian berkomunikasi, bekerja sama, serta memahami emosi orang lain. Jangan sampai kita pandai menggunakan teknologi, tetapi kehilangan keahlian berbicara, bermain, dan peduli kepada kawan sendiri," tegasnya.
Arah Baru MPLS Ramah 2026
Pesan tersebut selaras dengan penerapan Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026. Regulasi ini menetapkan bahwa MPLS kudu berdasarkan asas Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Fokus utamanya yaitu mengenalkan potensi diri, kurikulum, dan lingkungan sekolah tanpa adanya unsur perpeloncoan, kekerasan, maupun pungutan liar.
MPLS 2026 diposisikan sebagai pintu awal bagi sekolah untuk memahami kebutuhan unik setiap siswa guna merancang pendampingan intelektual, sosial, dan emosional nan tepat.
"Jadikan tiga tahun ke depan sebagai masa untuk menempa diri. Hormati orang tua, guru, teman, dan almamater. Semoga kalian menjadi pemimpin nan membanggakan," tutup Fajar.
Kepala SMA Labschool Kebayoran, Suparno, menyambut baik kehadiran Wamendikdasmen nan memberikan suntikan motivasi bagi siswa. Senada, Kepala BPS Labschool, Totok Bintoro, menilai pesan tersebut memperkuat budaya belajar dan kepemimpinan nan selama ini dibangun di lingkungan Labschool. (RO/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·