Wamenkes Harap Kampus dan Industri Percepatan Inovasi Vaksin Tuberkulosis

4 hari yang lalu 10
Wamenkes Harap Kampus dan Industri Percepatan Inovasi Vaksin Tuberkulosis Petugas kesehatan mendata penduduk bimbingan pemasyarakatan (WBP) saat skrining TBC dan HIV di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Serang, Kota Serang, Banten, Selasa (19/5/2026)(ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/YU)

WAKIL Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mempercepat lahirnya penemuan kesehatan termasuk vaksin tuberkulosis alias Tb dengan memanfaatkan riset.

Pria nan berkawan disapa Benny ini menyatakan bahwa pemerintah tengah mendorong setiap fakultas kedokteran di Indonesia untuk menghasilkan produk kesehatan strategis dengan kerjasama akademisi, pemerintah, industri, dan regulator.

Ia mengatakan vaksin Tb diperlukan lantaran Indonesia tetap menduduki posisi sebagai salah satu negara dengan beban kasus tertinggi di dunia. 

"Kita kudu bekerja secara luar biasa untuk mengatasi TB. Selain pengobatan, penguatan skrining, pencarian kontak, terapi pencegahan, hingga pengembangan vaksin nasional kudu melangkah bersama," ujar Benny pada Jumat (17/7/2026).

Upaya ini memerlukan kerjasama lintas sektor nan melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), perguruan tinggi, serta pihak industri dan regulator untuk memastikan proses pengembangan melangkah efisien.

Senada, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menegaskan bahwa penguatan ekosistem penemuan perihal krusial untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat dan vaksin. 

BPOM berkomitmen memberikan support penuh terhadap penemuan vaksin karya anak bangsa melalui:

  • Pendampingan proses pengembangan dari hulu ke hilir.
  • Pengawalan uji klinik nan ketat.
  • Percepatan proses perizinan tanpa mengabaikan standar keamanan.

"Kami bakal terus mengawal produk penemuan dalam negeri agar memenuhi standar keamanan, mutu, dan faedah sehingga bisa bersaing di tingkat global," tegas Taruna.

Keberhasilan Kolaborasi Bio-TCV

Bukti nyata keberhasilan sinergi lintas sektor ini ditunjukkan melalui peluncuran vaksin tifoid Bio-TCV. Vaksin ini merupakan hasil kerjasama antara Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan PT Bio Farma.

Direktur Utama PT Bio Farma, Shadiq Akasya, menyebut bahwa Bio-TCV adalah representasi dari keahlian Indonesia dalam mengembangkan teknologi vaksin secara mandiri. "Bio-TCV bukan sekadar produk baru, tetapi hasil kerjasama panjang nan menunjukkan Indonesia bisa mengembangkan vaksin sendiri," ungkapnya. (H-4)

Selengkapnya