Warga Kendal mendapatkan ayam petelor secara cuma-cuma.(MI/Supardji Rasban)
PARA peternak ayam petelor dari sejumlah wilayah di Jawa Tengah, melakukan tindakan demo di Alun-Alun Kendal, Senin (10/8). Mereka memprotes nilai jual telor nan anjlok. nan menarik, dalam tindakan demo ini, sebanyak 15.000 ekor ayam petelur milik para peternak dibagikan ke warga.
Selain harga telor nan jeblok, juga diperparah oleh biaya pakan ternak nan melambung tinggi, sehingga peternak merugi dan kesulitan menutupi biaya operasional pemeliharaan.
Para peserta tindakan demo datang dengan menggunakan mobil-mobil pikup nan mengangkut ribuan ekor ayam, kemudian berjejer di sekitar Alun-alun dan di depan instansi Bupati Kendal. Tak ayal, belasan ribu ekor ayam nan dilepas/bagikan ke penduduk menimbulkan kericuan lantaran wargaa berebut.
Dalam tindakan unjuk rasa itu, para peternak ayam petelor menyampaian sejumlah tuntutan. Yakni, turunkan nilai pakan, naikkan nilai telur, hapus monopoli impor bahan baku, cukupi kebutuhan jagung dengan nilai HAP, serta dibentuknya kementerian peternakan.
Salah seorang peternak ayam petelor nan datang dari Boyolali dan iku demo di Kendal, Subakir, menuturkan dia dengan sejumlah peternak lainnya dari Boyolali dan wilayah lainnya ialah Sukoharjo membawa 12.000 ekor ayam nan dilepas/bagikan ke warga.
Subakir meminta pemerintah pusat bisa mendengarkan penderitaan peternak nan saat ini tidak bisa lagi untuk memberi makan ternak mereka. “Kami memang kudu melakukan pengurangan, dan sebetulnya kami juga tak tega dengan berbagi seperti ini, langkah seperti ini. Tapi inilah corak tindakan kami, biar didengarkan sampai Presiden,” jelas Subakir.
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari nan datang di tengah pendemo berjanji bakal meneruskan aspirasi ke pemerintah pusat agar dicarikan solusi bagi para peternak. Dyah juga berjanji bakal menyampaikan tuntutan peternak ke pemerintah pusat
“Kami mendukung sepenuhnya untuk menyampaikan pada pemerintah, sehingga para peternak tidak selalu merugi karena nilai pakan dan harga telur selama ini tidak seimbang,” ujar Dyah Kartika. (JI/P-3)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·