ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas dan penduduk desa Kristen di Lebanon melayangkan protes keras untuk membantah klaim sepihak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu nan menyebut mereka meminta wilayahnya dicaplok Tel Aviv. Tuduhan sepihak ini langsung memicu kemarahan publik di Beirut lantaran dianggap sebagai strategi adu domba demi memicu perang kerabat di tengah ketegangan militer nan tetap membara.
Mengutip laporan Al Jazeera, Rabu (8/7/2026), kemarahan ini bermulai dari pernyataan Netanyahu dalam program televisi internasional sehari sebelumnya nan menyatakan beberapa organisasi Kristen meminta perlindungan militer Israel dari golongan Hizbullah. Merespons ketidakejujuran tersebut, pejabat dari 15 kota berpenduduk Kristen di Lebanon selatan langsung merilis maklumat berbareng pada Senin (06/07/2026) untuk menegaskan kesetiaan mereka pada kedaulatan Lebanon.
"Beberapa desa Kristen di Lebanon sebenarnya telah meminta untuk dianeksasi ke Israel, lantaran kami melindungi mereka dari Hizbullah, para ekstrem Hizbullah nan mau membunuh mereka, dan kami melakukan perihal nan sama kepada umat Kristen di mana pun," klaim Netanyahu dalam program The Sunday Briefing di saluran Fox News.
Sejumlah analis politik menilai klaim tersebut murni fabrikasi untuk memanfaatkan sensitivitas sistem kuota sektarian di pemerintahan Lebanon, terutama setelah agresi Israel memaksa 1.200.000 penduduk mengungsi. Profesor hubungan internasional dari Saint Joseph University of Beirut, Karim Emile Bitar, menyebut sang perdana menteri sengaja menghidupkan kembali strategi klasik adu domba guna memecah belah persatuan nasional.
"Klaim Netanyahu mencerminkan sinismenya dan kebenaran bahwa dia adalah seorang pembohong patologis," kecam Bitar saat diwawancarai oleh Al Jazeera.
"Ini tampaknya jelas dimaksudkan untuk menabur perang kerabat di Lebanon, untuk mengadu domba sesama penduduk Lebanon guna mempromosikan pendapat bahwa Israel dapat menjadi pelindung minoritas tertentu," lanjut Bitar memaparkan analisisnya.
Data dari lembaga Armed Conflict Location and Event Data (ACLED) justru menunjukkan bahwa desa-desa Kristen di sepanjang perbatasan justru menjadi korban dari serangan udara dan artileri pasukan Israel secara membabi buta. Manajer penelitian ACLED, Nasser Khdour, mengungkapkan kehancuran prasarana sipil terjadi masif di wilayah Rachaya al-Fakhar, Debel, dan Aalma Ech Chaab, termasuk kejadian vandalisme patung Yesus oleh tentara Israel pada April lalu.
"Meskipun desa-desa dan partai-partai Kristen menentang kebijakan Hizbullah, itu tidak berfaedah mereka mau menjadi bagian dari Israel," tegas Khdour mengenai sentimen lokal.
Bantahan senada juga disuarakan oleh para pejabat tinggi dan kepala wilayah di Lebanon nan menolak keras klaim perlindungan sepihak dari negara tetangga tersebut. Anggota Parlemen Lebanon dari faksi Kristen Ortodoks Yunani, Melhem Khalaf, menggelar konvensi pers darurat untuk menyatakan bahwa pemimpin Israel tersebut sama sekali tidak mempunyai kewenangan berbincang atas nama organisasi mereka.
"Tidak ada satu pun desa di wilayah Selatan nan mengusulkan permintaan seperti itu," cetus Hanna al-Amil, Kepala Kota Rmeish nan bermayoritas Kristen, saat diwawancarai surat berita lokal L'Orient-Le Jour.
Penolakan keras penduduk ini juga diperkuat oleh hasil jajak pendapat dari Lebanese American University pada Juni 2026 nan menunjukkan bahwa 87% penduduk Lebanon sepakat memandang Israel sebagai musuh bersama. Taktik manipulasi rumor minoritas ini tercatat bukan pertama kalinya dilakukan, setelah sebelumnya Israel menggunakan dalih serupa untuk membom Damaskus, Suriah, dengan argumen melindungi organisasi Druze tahun lalu.
(tps/luc)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·