Jakarta, CNBC Indonesia - Industri komponen otomotif nasional mulai menghadapi tekanan nan semakin besar di tengah kenaikan nilai beragam bahan baku. Mulai dari oli pelumas, grease hingga plastik mengalami kenaikan nilai nan berkapak langsung terhadap biaya produksi pabrikan.
Kondisi tersebut memaksa pelaku industri mencari beragam langkah agar kenaikan biaya produksi tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen. Di sisi lain, perusahaan juga kudu menjaga agar produk tetap terjangkau sehingga permintaan pasar tidak semakin melemah.
"Karena situasi dunia nan kurang bagus dengan adanya bentrok di Selat Hormuz, otomatis bahan baku terutama nan derivatif minyak mengalami kenaikan. Contohnya plastik, minyak, oli, grease dan lain sebagainya sehingga biaya produksi ikut naik. Sementara nilai jual ke konsumen sebisa mungkin tetap kudu tetap terjangkau," ujar Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmad Basuki kepada CNBC Indonesia, Jumat (17/7/2026)
Tantangan terbesar industri saat ini adalah menjaga keseimbangan antara kenaikan ongkos produksi dan keahlian beli masyarakat. Perusahaan dituntut mempertahankan efisiensi agar operasional tetap melangkah tanpa mengorbankan daya saing.
Efisiensi sekarang menjadi keharusan nan ditempuh nyaris seluruh produsen komponen. Langkah tersebut dilakukan agar margin upaya tetap cukup untuk menjaga keberlangsungan upaya di tengah kondisi dunia nan belum menentu.
"Tekanannya di situ. Ongkos produksi naik, tetapi konsumen tetap mau membeli. Artinya kami kudu mencari langkah berproduksi seefisien mungkin sehingga margin nan diperoleh tetap cukup untuk menjalankan upaya ke depan," kata Rachmad.
Selain kenaikan biaya produksi, industri juga menghadapi tantangan dari sisi permintaan. Ketidakpastian ekonomi membikin masyarakat semakin selektif dalam membelanjakan uangnya sehingga pembelian komponen maupun servis kendaraan berpotensi tertunda.
Kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak awal agar tekanan terhadap industri tidak semakin dalam. Menurutnya, keseimbangan antara efisiensi produksi dan daya beli masyarakat menjadi aspek krusial menjaga keberlangsungan industri komponen nasional.
"Kalau harga-harga naik, masyarakat biasanya bakal lebih mengutamakan kebutuhan utama seperti transportasi. Servis kendaraan alias pembelian nan belum mendesak bisa saja ditunda, dan itu bakal memengaruhi industri komponen," ujarnya.
(dce)
Addsource on Google

4 hari yang lalu
12







English (US) ·
Indonesian (ID) ·