ARTICLE AD BOX
(Dok. Pribadi)
MEMASUKI lorong subway dari Meydan-e Ketab menuju Grand Mosalla Teheran, saya disuguhi pemandangan tidak biasa. Raut muka sedih orang-orang berpakaian hitam melangkah beriringan. Ada nan menggenggam bendera Iran. Sebagian lagi membawa poster Ayatullah Ali Khamenei.
Tapi, perhatian saya justru tertuju pada satu simbol nan muncul berulang: sebuah kepalan tangan berlatar merah dan hitam. Di samping gambar terdapat tulisan bahasa Farsi berwarna putih: ‘Bayad bakhast!’ (Ayo bangkitlah!).
Di dalam gerbong kereta nan berdesakan, slogan-slogan duka dan perlawanan nan unik terus bergema menggema bersahutan. Ketika keluar dari stasiun, saya seolah hanyut ke dalam arus manusia nan susah terlihat ujungnya. Jalan-jalan menuju Grand Mosalla berubah menjadi lautan pelayat. Di sanalah saya menyaksikan secara langsung salah satu prosesi pemakaman terbesar dalam sejarah Iran modern. Saya berdiri di tengah jutaan orang nan datang dari beragam kota untuk mengantar pemimpin mereka ke tempat peristirahatan terakhir. Ketika itu, saya menyaksikan bukan sekadar prosesi pemakaman, melainkan sebuah peristiwa simbolis penting.
Di Iran, simbol tidak pernah berdiri sendiri. Sebuah peristiwa seperti ritual kematian selalu berkelindan dengan sejarah, agama, dan memori kolektif. Bendera nasional, slogan, dan jutaan pelayat membentuk rangkaian simbol nan merentang.
Hari Jumat (3/7/2026) dan Sabtu (4/7/2026) berjalan prosesi penghormatan diplomatik dan publik di Teheran, lampau bersambung ke Qom. Kemudian melintasi negara lain, Najaf dan Karbala di Irak. Akhirnya kembali ke Iran, dengan prosesi pemakaman di Mashhad pada hari Kamis (9/7/2026). Semuanya membentuk narasi nan saling menguatkan dalam jalinan simbol.
Victor Turner memandang ritual bukan sebagai seremoni belaka, melainkan proses sosial nan memperbarui solidaritas dan identitas bersama. Prosesi panjang nan saya saksikan selama sepekan bukan hanya penghormatan kepada seorang pemimpin nan gugur, melainkan juga langkah sebuah masyarakat merawat memori kolektif mereka dan memperpanjang napas perjuangannya.
Rangkaian simbol ini tampil dari tingkatan individual hingga nasional. Dalam konteks kolektif di Iran, momentum seperti ini acapkali menyatukan pihak nan berseberangan. Contoh paling nyata datang dari kalangan akademisi kritis seperti Bijan Abdolkarimi. Meski dikenal kritis terhadap rezim, filsuf Iran ini tetap datang dan mengekspresikan perasannya dengan simbol, "Saya hanyalah seekor ikan di tengah samudra massa.”
PERJUANGAN TIDAK BERHENTI BERSAMA KEMATIAN
Di titik inilah saya memandang keterkaitan simbol berpadu. Simbol kepalan tangan, ikan, dan samudra. Ketiganya berbincang tentang konsistensi. Kepalan tangan dimaknai sebagai simbol bahwa perjuangan tidak berakhir berbareng kematian. Abdolkarimi menunjukkan corak perjuangan lain: ikan nan tetap setia pada hati nurani dan kejujuran intelektual.
Dalam sosiologi, Émile Durkheim menyebut kejadian semacam ini sebagai kebenaran sosial. Realitas kolektif nan kudu dipahami sebelum dinilai. Tentu, kita bisa berbeda pandangan mengenai Ali Khamenei alias Republik Islam. Akan tetapi, jutaan orang nan datang memberikan penghormatan terakhir adalah kebenaran empiris nan layak dijelaskan, bukan diabaikan.
Bagi para pelayat, kepalan tangan dimaknai sebagai simbol keteguhan dalam memperjuangkan prinsip dan nilai. Bagi Abdolkarimi, konsistensi berfaedah tetap kritis terhadap negara, tanpa kehilangan kejujuran untuk mengakui kenyataan. Dua posisi nan berbeda itu dipertemukan oleh satu nilai nan sama: kesetiaan pada prinsip dan nilai.
Saya meninggalkan Grand Mosalla dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Saya pulang dengan sebuah pengingat bahwa setiap bangsa mempunyai simbol-simbol nan membentuk memori kolektifnya, dan setiap intelektual diuji bukan ketika kebenaran mendukung keyakinannya, melainkan ketika kebenaran menantang keyakinannya nan mungkin berbeda.
Sayid Ali Khamenei, nan gugur dengan tangan terkepal, menjadi simbol dalam gambar nan bertebaran pada prosesi panjang pemakamannya.
Pada akhirnya, makna terdalam dari simbol kepalan tangan itu bukan terletak pada siapa nan mengepalkannya, melainkan pada pertanyaan nan ditinggalkan bagi kita semua: masihkah kita mempunyai keberanian dan konsistensi untuk tetap setia pada prinsip dan nilai, meskipun kudu ditebus dengan nilai nan mahal?
Ali Khamenei menebus dengan nyawanya. Dalam kepalan tangan, napas panjang perlawanan terus lestari. Inilah nan dia wariskan.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·